Tuesday, 18 April 2017

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                 DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka
Strategi Bauran Pemasaran
 
Assauri, S. 1996. Manajemen Pemasaran Dasar Konsep dan Strategi. Jakarta : Rajawali Press.

Basu Swastha dan Irawan. 2000. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.

Basu Swastha HD. 2002. Manajemen Pemasaran Analisa Perilaku Konsumen, Edisi 1 Cetakan kedua. Yogyakarta: Liberty.

Downey & Erickson. 2002. Manajemen Agribisnis. Edisi Ketiga. Terjemahan Ganda S. dan Alfonsus Sirait. Jakarta: Erlangga.

Keegan, WJ. 1997. Manajemen Pemasaran Global Jilid I. Terjemahan Alexander Sindoro. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran (Analisis Perencanaan Implementasi dan Pengendalian). Terjemahan oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli. Jakarta: Erlangga.

Kotler, P., dan Amstrong. 1999. Dasar-Dasar Pemasaran Jilid 2. Terjemahan Alexander Sindoro. Jakarta: Perrihalindo.

Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Control, Terjemahan Edisi kedelapan, jilid 1. Jakarta: Prenhalindo.

Mc. Carthy, Jerone, E dan William D. Perreault, Jr. 1995. Dasar-Dasar Pemasaran, Edisi Kelima, Alih Bahasa: Agus Dharma. Jakarta: Erlangga.

Poerwadarminta,WJS. 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Stanton, WJ. 1996. Prinsip Pemasaran. terjemahan oleh Agus Budiyanto. Jakarta: Erlangga.

Swastha, B, dan Irawan. 1993. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: BPFC YKPN.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Tjiptono, Fandy. 1995. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi Ofset.

Winardi. 2001. Marketing dan Perilaku Konsumen. Bandung: CV Mendar Mas.






Labels:

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                            BAB V
                                                        KESIMPULAN DAN SARAN

 
A.    Kesimpulan
     Berdasarkan hasil penelitian pengaruh strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Strategi produk tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena produk yang dijual kurang bervariasi.
2.    Strategi harga tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena tidak menerapkan diskon dalam penjualan produknya.
3.    Strategi distribusi tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena hanya membuka satu cabang usaha saja.
4.    Strategi promosi tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena kurangnya promosi yang dilakukan.


Marketing Mix
Marketing Mix

B.    Saran
      Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1.    Warung Bakso Barokah diharapkan dapat menerapkan strategi bauran pemasaran yang baik yaitu dengan menambah variasi produk, menerapkan diskon dalam penjualan produknya, menambah cabang usahanya, dan meningkatkan promosi dalam penjualan produknya. Sehingga jika ini dilakukan dapat meningkatkan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
2.    Sebaiknya Warung Bakso dapat menambah jumlah karyawannya, agar dapat meningkatkan jumlah produksi dan dapat meningkatkan volume penjualan.


Labels:

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                             BAB IV
                                               HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 
A. Penyajian Hasil Penelitian
1.    Hasil Penelitian
a.    Strategi Produk
Dalam merancang produk yang dihasilkan, terdapat beberapa tahapan yang selalu diperhatikan sehingga produk dapat diterima konsumen, yaitu:
1)    Perencanaan produk meliputi:
Sebelum membuat suatu produk perlu dilakukan suatu perencanaan produk. Hal ini mempengaruhi berhasil atau tidaknya dalam menghasilkan produk yang berkualitas. Hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya :
a)    Pengadaan bahan baku 
Tabel 2. Pengadaan bahan baku pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

Pengadaan Bahan Baku pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Pengadaan Bahan Baku
b)    Jenis Produk
Produk yang dihasilkan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar berupa bakso, mie kuah, dan mie goreng.
2)    Pengembangan Produk
a)    Desain produk
Desain produk yang digunakan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah bakso yang dijual memiliki bentuk bulat, ada bentuk bulat kecil yang berisi daging dan bentuk bulat besar yang berisi telur ayam. Dalam setiap mangkuknya terdapat enam biji bakso beserta mie dan bihun.
b)    Mutu produk
Produk yang dijual oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah memiliki cita rasa yang enak. Produk bakso ini memiliki tekstur yang kenyal dan berwarna keabu-abuan. Ciri-ciri bakso yang baik adalah elastis, kenyal, sedap dan warna keabu-abuan. Berdasarkan ciri-ciri bakso tersebut, maka produk bakso yang dijual oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu memiliki ciri-ciri bakso yang baik karena bakso yang dijual adalah elastis, kenyal, enak, dan berwarna keabu-abuan.
Tabel 3. Perubahan produk pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar Tahun 2011-2015.

Perubahan Produk pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Perubahan Produk pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
         Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa pada tahun 2011, jenis produk yang dijual hanya ada satu produk berupa bakso, sedangkan pada tahun 2012, jenis produknya tidak bertambah yaitu hanya satu produk berupa bakso, selanjutnya pada tahun 2013, jenis produknya bertambah menjadi dua jenis produk yaitu bakso dan mie kuah, sedangkan pada tahun 2014 dan 2015 jenis produknya bertambah menjadi tiga jenis produk yaitu bakso, mie kuah, dan mie goreng.
      Pada Warung Bakso Barokah belum menerapkan strategi produk dalam usahanya. Dimana produk yang dijual oleh Warung Bakso Barokah kurang bervariasi, yaitu hanya terdiri atas 3 jenis produk saja. Hal ini dapat mengurangi volume penjualan. Salah satu cara dalam meningkatkan volume penjualan adalah dengan menerapkan diversifikasi produk, yaitu dengan menambah variasi produk. Sehingga jika Warung Bakso Barokah menambah variasi produknya dapat meningkatkan volume penjualannya.

b.    Strategi Harga
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu sebagai berikut :
1)    Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar meliputi:
a)    Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian sangat mempengaruhi tingkat harga yang berlaku yaitu adanya kenaikan bahan baku seperti harga daging sapi dan daging ayam yang semakin mahal serta bahan-bahan lainnya, sehingga apabila harga bahan baku naik maka harga produk juga akan mengalami kenaikan. Seperti yang dilihat pada Warung Bakso Barokah yang menaikkan harga baksonya dari harga Rp4.000,00 menjadi Rp5.000,00.
b)    Permintaan dan penawaran
Warung Bakso Barokah di Kota Makassar melakukan penawaran yang kecil pada tingkat harga produk lebih murah dibandingkan dengan harga produk bakso lainnya. Dengan harga murah ini dapat mengakibatkan permintaan yang lebih besar. Harga bakso yang ditetapkan oleh Warung Bakso Barokah yaitu Rp5.000,00.
c)    Persaingan
Banyaknya usaha sejenis yang menawarkan kelebihan-kelebihan pada produknya menuntut Warung Bakso Barokah di Kota Makassar menetapkan harga yang selaras dengan kelebihan yang ditonjolkan pada produk. Namun selain harrga yang ditetapkan oleh pesaing perusahaan juga telah menyesuaikan segmen yang sesuai dengan harga yang telah ditetapkannya.
d)    Biaya
Kenaikan harga bahan baku dalam pembuatan bakso disertai dengan biaya operasional pabrik turut memberikan dampak penyesuaian harga dari perusahaan. Perubahan naik dan turun biaya-biaya yang mengiringi kegiatan usaha, akan mempengaruhi penetapan harga produk.
2)    Strategi harga yang diterapkan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
       Warung Bakso Barokah di Kota Makassar belum menerapkan strategi harga dalam menjual produknya. Dimana dalam pembelian produknya, tidak menerapkan potongan harga atau diskon pada produk yang dibeli konsumen. Dalam menarik jumlah pembeli, diperlukan strategi harga berupa potongan harga atau diskon. Sehingga jika Warung Bakso Barokah menerapkan diskon pada pembelian produknya, dapat menambah jumlah pembeli. Bertambahnya jumlah pembeli dapat meningkatkan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.


c.    Strategi Distribusi

             Warung Bakso Barokah di Kota Makassar belum menerapkan strategi distribusi yang baik karena usahanya hanya memiliki satu cabang usaha saja, sehingga tidak dapat menjangkau banyak pembeli karena hanya memiliki satu cabang usaha saja. Hal ini dapat mengurangi jumlah pembeli yang pada akhirnya mengurangi volume penjualannya.
          Warung Bakso Barokah di Kota Makassar memiliki tempat yang kurang strategis, karena berada di daerah lorong. Selain itu, tempat usaha pada Warung Bakso Barokah ini, memiliki tempat usaha yang sempit, kurangnya fasilitas yang disediakan seperti kurangnya kursi dan meja, kurang dilengkapi dengan kipas angin atau AC, serta tidak dilengkapi dengan lahan parkir, sehingga mengurang jumlah penjualan karena tempat yang disediakan tidak memadai.
        Pada Warung Bakso Barokah ini tidak menggunakan biaya distribusi karena proses saluran pendistribusiannya dilakukan secara langsung, sehingga tidak mengeluarkan biaya distrbusi dalam proses penyaluran produknya.
Tabel 4. Data tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar tahun 2011-2015

Data Tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Data Tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
       Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa pada tahun 2011, tempat penjualan pada Warung Bakso Barokah hanya menggunakan gerobak dorong, dalam menjual produknya. Sedangkan pada tahun 2012, tempat penjualannya masih menggunakan gerobak, selanjutnya pada tahun 2013-2015, Warung Bakso Barokah sudah memiliki tempat usaha dalam menjual produknya, tanpa harus berjalan dengan menggunakan gerobak dorong.
       Perubahan yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar dari yang awalnya hanya menggunakan gerobak dorong berubah menjadi tempat usaha tetap. Hal ini dilakukan karena Warung Bakso Barokah ingin mengembangkan usahanya sehingga mendirikan tempat usaha menetap.


d.    Strategi Promosi

      Promosi merupakan kegiatan yang disusun perusahaan untuk memperkenalkan produknya dan menarik perhatian mitra kerja agar tertarik membeli. Penggunaan media promosi juga harus disesuaikan dengan perantara pasar dan kondisi perusahaan sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan promosi menjadi efektif dan efisien.
     Adapun kegiatan promosi Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah sebagai berikut :
1)    Menggunakan Papan Nama. Pada Warung Bakso Barokah menggunakan papan nama di depan tempat usahanya, sehingga orang-orang bisa mengetahui bahwa tempat tersebut menjual bakso.
2)    Promosi dari mulut ke mulut. Pada Warung Bakso Barokah dikenal hanya melalui promosi dari mulut ke mulut oleh pembeli yang telah membeli produknya. Pembeli tersebut menceritakan kepada orang lain sehingga Warung Bakso Barokah ini dapat meningkatkan hasil penjualannya
      Adapun promosi yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu sebagai berikut :
Tabel 5. Data promosi pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar tahun 2011-2015

Data Promosi pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Data Promosi pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
      Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa promosi yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, pada tahun 2011-2012 menggunakan gerobak keliling, sedangkan pada tahun 2013,      Warung Bakso Barokah sudah memiliki tempat usaha dan memasang papan nama di bagian depan tempat usahanya, selanjutnya pada tahun 2014-2015 melakukan penerimaan pemesanan bagi konsumen yang ingin memesan bakso yang banyak. 

e.    Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

      Kegiatan bisnis pasar merupakan perantara yang bagus untuk mempromosikan produk-produk yang akan dijual. Produk-produk baru yang dihasilkan harus menitikberatkan pada kebutuhan dan keinginan pasar. Hal ini merubah orientasi perusahaan yaitu bukan lagi hanya pada volume penjualan saja, tetapi juga menekan pada kepuasan konsumen, sehingga konsumen akan mengkonsumsi secara berkelanjutan.       Demikian pula dengan Warung Bakso Barokah yang bergerak di bidang industri pembuatan dan penjualan produk bakso. Dengan melaksanakan strategi bauran pemasaran yang terdiri dari empat indikator (produk, harga, promosi, dan distribusi) tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
Tabel 6. Perkembangan Volume Penjualan yang diperoleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar tahun 2011-2015

Perkembangan Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Perkembangan Volume Penjualan
      Dengan demikian untuk mengetahui dampak sejauh mana pengaruh strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar dapat diketahui dengan membandingkan volume penjualan selama 5 tahun terakhir, yaitu penjualan tahun 2011-2015.
      Pada tahun 2011, volume penjualan bakso pada Warung Bakso Barokah mencapai 144.000 unit. Sedangkan pada tahun 2012, volume penjualan mengalami penurunan menjadi 135.000 unit. Selanjutnya pada tahun 2013, volume penjualan mengalami penurunan drastis menjadi 79.200 unit. Sedangkan pada tahun 2014, volume penjualan mengalami peningkatan menjadi 108.000, dan pada tahun 2015, volume penjualan mengalami peningkatan menjadi 129.600 unit.
      Perubahan volume penjualan yang berfluktuasi disebabkan karena Warung Bakso Barokah menjual produk yang kurang bervariasi, yaitu hanya 3 jenis produk saja. Selain itu, dalam penjualan produknya, belum menerapkan potongan harga atau diskon dalam penjualan produknya dan cabang usaha pada Warung Bakso Barokah hanya memiliki satu cabang usaha saja serta promosi hanya dilakukan dengan memasang papan nama di depan tempat usahanya. Hal ini menunjukkan bahwa Warung Bakso Barokah belum menerapkan strategi bauran pemasaran pada usahanya. Sehingga dapat mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.


2.    Analisis Data
a.    Pengaruh Produk terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linier
Tabel 7. Hasil Analisis Data Regresi Linier

Hasil Analisis Data Regresi Linear
Hasil Analisis Data Regresi Linear
        Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 5.000 dan nilai b sebesar -1.000, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                      Y = 5.000 – 1.000X
       Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 5.000 – 1.000X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 5.000. Hal ini berarti bahwa jika produk tetap atau tidak mengalami perubahan maka produk sebesar nilai konstanta yaitu 5.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien produk sebesar -1.000X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa produk mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan produk satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 1000 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 8. Hasil Analisis koefisien korelasi

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Koefisien Korelasi
       Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan produk (XI) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,632 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,60-0,799, yang berarti bahwa besarnya korelasi antara produk yang bervariasi terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,400 atau 40,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh produk terhadap volume penjualan adalah 40,0 persen.
3)    Uji T
Tabel 9. Hasil Analisis Uji T

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Uji T
           Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,252 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara produk dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga produk berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara tidak signifikan antara produk dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah karena produk yang dijual kurang bervariasi, sehingga mengurangi volume penjualan.

b.    Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linier
Tabel 10. Hasil Analisis Data Regresi Linier 


Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Hasil Analisi Data Regresi Linear
        Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 7.000 dan nilai b sebesar -2.500, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                                         Y = 7.000 – 2.500X
           Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 7.000 – 2.500X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 7.000. Hal ini berarti bahwa jika harga tetap atau tidak mengalami perubahan maka harga sebesar nilai konstanta yaitu 7.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien harga sebesar -2.500X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa harga mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan harga satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 2500 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 11. Hasil Analisis Koefisien Korelasi

Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisi Koefisien Korelasi
       Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan harga (X2) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,866 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,80-1,000 yang berarti bahwa besarnya korelasi antara harga terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah sangat kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,750 atau 75,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh harga terhadap volume penjualan adalah 75,0 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harga memiliki korelasi yang sangat kuat dalam mempengaruhi volume penjualan.
3)    Uji T
Tabel 12. Hasil Analisis Uji T

Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Uji T
         Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,058 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara harga dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga harga berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara harga dengan volume penjualan tidak signifikan karena disebabkan karena tidak menerapkan strategi harga dalam menjual produk, dimana tidak menerapkan potongan harga atau diskon dalam menjual produknya. Sehingga dapat mengurangi volume penjualannya.


c.    Pengaruh Tempat terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linier
Tabel 13. Hasil Analisis Data Regresi Linier 

Pengaruh Tempat terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Data Regresi linear
          Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 7.000 dan nilai b sebesar -2.500, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                                   Y = 7.000 – 2.500X
        Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 7.000 – 2.500X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 7.000. Hal ini berarti bahwa jika tempat tetap atau tidak mengalami perubahan maka tempat sebesar nilai konstanta yaitu 7.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien tempat sebesar -2.500X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa tempat mempunyai pengaruh yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap penambahan tempat satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 2500 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 14. Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi

Pengaruh tempat terhadap volume penjualan
Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi
        Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan distribusi (X3) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,866 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,80-1,000 yang berarti bahwa besarnya korelasi antara tempat terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah sangat kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,750 atau 75,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh tempat terhadap volume penjualan adalah 75,0 persen. Hal ini menunjukkan bahwa antara tempat dengan volume penjualan memiliki korelasi yang sangat kuat yaitu sebesar 75,0 persen.
3)    Uji T
Tabel 15. Hasil Analisis Uji T

Pengaruh tempat terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Uji T
        Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,058 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara distribusi dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga tempat berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara tempat dengan volume penjualan tidak signifikan karena Warung Bakso Barokah di Kota Makassar hanya memiliki satu cabang usaha saja, sehingga mengurangi volume penjualannya. Selain itu, lokasi tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar kurang strategis karena berada di daerah lorong, sehingga mengurangi volume penjualan, tempat yang disediakan kurang memadai, dimana fasilitas yang disediakan masih minim atau kurang memadai, seperti kurangnya kursi dan meja, tidak adanya tempat parkiran dan memiliki ruangan yang sempit.
d.    Pengaruh Promosi terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linear
Tabel 16. Hasil Analisis Data Regresi Linier 

Hasil Analisis Data Regresi Linear
Hasil Analisis Data Regresi Linear
     Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 5.000 dan nilai b sebesar -1.000, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                                          Y = 5.000 – 1.000X
      Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 5.000 – 1.000X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 5.000. Hal ini berarti bahwa jika promosi tetap atau tidak mengalami perubahan maka promosi sebesar nilai konstanta yaitu 5.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien produk sebesar -1.000X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa promosi mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan promosi satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 1000 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 17. Hasil Analisis Data koefisien korelasi

Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi
Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi 

       Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan promosi (XI) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,632 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,60-0,799, yang berarti bahwa besarnya korelasi antara promosi yang bervariasi terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,400 atau 40,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh promosi terhadap volume penjualan adalah 40,0 persen.
3)    Uji T
Tabel 18. Hasil Analisis Uji T

Hasil Analisis Uji T
Hasil Analisis Uji T
          Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,252 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara promosi dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga promosi berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara promosi dengan volume penjualan tidak signifikan karena kurangnya promosi yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu promosi yang dilakukan masih sangat kurang yaitu hanya menggunakan papan nama ditempat usahanya sehingga mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.

B.    Pembahasan

 
1.    Pengaruh Strategi Produk terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
       Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa produk tidak berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Namun, memiliki korelasi yang kuat yaitu sebesar 40,0 persen., Penyebab yang menjadi tidak signifikan antara produk dengan volume penjualan karena produk yang dijual oleh warung Bakso Barokah kurang bervariasi, dimana tidak ada produk baru yang dijual. Jadi, walaupun harganya murah, tetapi produk yang ditawarkan kurang bervariasi akan mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Selain itu, produk yang dijual tidak diberikan merek pada setiap produknya. 


2.    Pengaruh Strategi Harga terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

       Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara harga dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, namun memiliki korelasi yang sangat kuat sebesar 75,0 persen. Adapun penyebab tidak signifikan antara harga dengan volume penjualan yaitu tidak menerapkan potongan harga atau diskon dalam penjualan produknya.


3.    Pengaruh Strategi Tempat terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

        Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tempat dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Namun memiliki korelasi yang sangat kuat sebesar 75,0 persen. Adapun yang menjadi penyebab tidak signifikan antara tempat dengan volume penjualan yaitu Warung Bakso Barokah hanya memiliki satu cabang usaha saja, sehingga dapat mengurangi volume penjualannya. Selain itu, lokasi tempat yang kurang strategis karena berada di lorong dan fasilitas yang disediakan masih kurang memadai, dimana kurangnya kursi dan meja, serta tidak adanya lahan parkir yang disediakan, sehingga dapat mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. 


4.    Pengaruh Strategi Promosi terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
      Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa promosi tidak signifikan dengan volume penjualan, namun memiliki korelasi yang kuat yaitu sebesar 40,0 persen. Adapun penyebab tidak signifikannya antara promosi dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu promosi yang dilakukan masih sangat kurang, yaitu promosi yang dilakukan hanya memasang papan nama di tempat usahanya. Sehingga mengurangi volume penjualan. 


















Labels:

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                               BAB III
                                                                 METODE PENELITIAN

 
A.    Variabel dan Desain Penelitian

 
1.    Variabel Penelitian
      Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel yaitu sebagai berikut:
a)    Produk, harga, promosi, dan distribusi merupakan variabel bebas (independent variable) diberi symbol X.
b)    Volume Penjualan merupakan variabel terikat (dependent variable) diberi simbol Y.


2.    Desain Penelitian

Desain penelitian
Desain Penelitian

   B.  Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel

 
    1. Definisi Operasional Variabel
         Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis faktor-faktor serta mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi bauran pemasaran yaitu, product, price, place serta promotion terhadap volume penjualan pada   Warung Bakso Barokah. Maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini dapat dibagi dalam dua item, yaitu:

a. Variabel Produk (X1) merupakan barang yang diproduksi dan dijual untuk ditawarkan kepada konsumen, produknya berupa makanan.
b. Variabel harga (X2) merupakan sejumlah kompensasi/uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang, mengenai harga makanan yang akan dijual. 
c. Variabel saluran distribusi (X3) merupakan saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan produk baksonya sampai ke konsumen atau berbagai aktivitas perusahaan yang mengupayakan agar produk sampai ke tangan konsumen.
 d. Variabel promosi (X4) merupakan kegiatan-kegiatan yang secara aktif yang dilakukan perusahaan untuk mendorong konsumen membeli produk yang ditawarkan.
 e. Variabel volume penjualan (Y) adalah hasil akhir yang dicapai perusahaan dari penjualan produk yang dilakukan oleh salesman dan tenaga penjual lainnya. Volume penjualan dalam penelitian ini dinyatakan dalam jumlah atau unit.


 2. Pengukuran Variabel
     Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui seberapa besar pengaruh strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar dimana variabel :

 a. Produk diperoleh dengan cara observasi dan mewawancarai pemilik usaha pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Variabel penelitian ini diukur dengan menggunakan satuan angka.
 b. Harga diperoleh dengan cara observasi dan mewawancarai pemilik usaha pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Variabel penelitian ini diukur dengan menggunakan satuan rupiah (Rp).
 c. Distribusi diperoleh dengan cara observasi dan mewawancarai pemilik usaha mengenai saluran distribusi yang digunakan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Variabel penelitian ini diukur dengan menggunakan satuan angka.
 d. Promosi diperoleh dengan cara observasi dan mewawancarai pemilik usaha mengenai promosi yang digunakan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Variabel penelitian ini diukur dengan menggunakan satuan angka.
 e. Volume penjualan diperoleh dengan cara mewawancarau pemilik usaha mengenai volume penjualan yang didapatkan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Variabel penelitian ini diukur dengan menggunakan satuan unit.
 

C. Populasi
     Populasi dalam penelitian ini yaitu data penjualan lima tahun terakhir yaitu tahun 2011-2015 pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Penelitian ini tidak menggunakan sampel karena merupakan data time series.


 D. Teknik Pengumpulan data
     Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

 1. Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar secara sistematis disesuaikan dengan data yang diperlukan.
 2. Wawancara, yaitu melakukan tanya jawab kepada pemilik Warung Bakso Barokah tentang data yang berhubungan dengan penelitian.


 E. Teknik Analisis Data
     Untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan teknik analisis sebagai berikut.

1. Analisis Regresi Linear Berganda
      Metode Analisis Regresi Berganda, dengan aplikasi program SPSS (Statistical Product Standart Solution) versi 16,0 for Windows. Adapun formula dari model Analisis Regresi Berganda tersebut adalah sebagai berikut :
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4
Dimana:
Y    : Volume penjualan dalam satuan unit
b0    : Konstanta
b1, b2, b3, b4    : Parameter yang diukur
X1    : Produk (Product)
X2    : Harga (Price)
X3    : Tempat (Place)
X4    : Promosi (Promotion)
       Rumus di atas digunakan untuk menentukan pengaruh masing-masing variabel bauran pemasaran yaitu: Produk (Product), Harga (Price), Tempat (Place), dan Promosi (Promotion) terhadap variabel volume penjualan. Selanjutnya untuk menguji nilai signifikan dari masing-masing koefisien pengaruh tersebut maka digunakan uji Turkey (t), dimana nilai Signifikan kurang dari α : 5% (nilai toleransi terhadap error) yang berarti koefisien pengaruh yang dimaksud adalah signifikan.


2. Analisis Korelasi Product Moment
     Untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel penelitian digunakan analisis korelasi Product Moment, sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono (2006:191) dengan rumus sebagai berikut:

Rumus Analisis Korelasi Product Moment
Rumus Korelasi Product Moment 

      Selanjutnya untuk melihat hasil dari nilai korelasi yang diperoleh dapat dibuktikan dengan tabel berikut:
Pedoman Interpretasi Nilai Koefisien Korelasi (r)
Pedoman Interpretasi Nilai Koefisien Korelasi (r)


3.  Uji Secara Parsial (Uji – T)
     Uji Secara Parsial (T-test) bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen.
     Adapun kriteria Pengujian hipotesis menurut Sugiyono (2006:337):

a)  Apabila taraf signifikan < 0,05 atau α 5 persen, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan.
b) Apabila taraf signikan > 0,05 atau α 5 persen, maka Ha ditolak dan Ho diterima. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan.
      Perhitungan secara manual dengan rumus tersebut adalah dengan memasukkan nilai-nilai yang diminta ke dalam rumus-rumus di atas. Namun karena pengolahan data yang penulis lakukan dalam penulisan skripsi ini menggunakan bantuan program Software Statistical Product Standart Solution (SPSS) maka perhitungan secara manual dengan rumus di atas tidak penulis lakukan.
















Labels:

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                          BAB II
                                              KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A.    Kajian Pustaka
1.    Strategi Produk
            Menurut Tjiptono (1995:76), “Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan”. Selain itu produk juga dapat diartikan pemahaman subjektif dari produsen atau sesuatu sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
            Strategi produk merupakan salah satu keputusan penting dalam ruang lingkup pemasaran. Jadi, apa yang ada dan sesuai dalam pemasaran diserap oleh strategi produk. Jadi, pemasaran berkontribusi terhadap strategi produk dalam hal daur hidup produk, spesifikasi produk, penentuan target dan memasarkan produk.

            Setiap produsen selalu mempunyai tujuan bahwa produk yang dihasilkannya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen sehingga terjadi pertukaran. Pertukaran ini dapat memberikan kontribusi yang positif bagi perusahaan yang berupa keuntungan dan pelanggan setia yang dapat menjamin kelangsungan usaha perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan berusaha untuk menerapkan strategi untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen sehingga akan memberikan kepuasan bagi konsumen dan perusahaan mendapatkan keuntungan.
            Kotler (1997:19) mendefinisikan “Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memuaskan suatu kebutuhan dan keinginan”.
           Sedangkan secara konseptual, Tjiptono (1995:95) menyatakan bahwa:
Produk adalah pemahaman subyektif dari produsen atas segala sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi, melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar.
            Ahli lain memberikan pengertian bahwa produk adalah suatu kompleksitas sifat dari barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Swastha & Irawan (1993:65) bahwa “Produk adalah suatu sifat yang kompleks baik itu diraba maupun tidak dapat diraba termasuk bungkus, warna, harga, prestise perusahaan dan pengecer yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan”.
           Dari ketiga definisi, dapat disimpulkan bahwa suatu produk harus memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen yang menjadi sasaran. Ciri-ciri produk juga berkaitan dengan unsur-unsur pemasaran lainnya.
            Strategi produk yang umumnya diterapkan adalah pada pemusatan perhatian pada kemasan serta   cara untuk menarik minat konsumen dengan cara mempengaruhi keputusan konsumen melalui keterikatan merek.
Assauri (1996:86) mengungkapkan bahwa Pemberian merek pada suatu produk dimaksudkan untuk beberapa alasan yaitu:
a.    Untuk tujuan identifikasi guna mempermudah penggunaan atau mencari jejak produk yang dipasarkan.
b.    Melindungi produk yang unik dari kemungkinan ditiru oleh pesaing.
c.    Produsen ingin menekankan mutu tertentu yang ditawarkan dan untuk mempermudah konsumen menemukan produk tersebut kembali.
d.    Sebagai landasan untuk mengadakan diferensiasi harga.
          Merek merupakan alat yang efektif untuk meningkatkan atau mempertahankan penjualan. Hal ini dapat terjadi apabila konsumen puas terhadap produk yang dikonsumsinya, sehingga dengan pemberian merek konsumen dapat mencari dan membeli produk yang diinginkan karena selalu diingat konsumen (brand loyalty).
         Selain itu, kemasan suatu produk dapat memberikan pengaruh yang penting dalam mempertahankan atau meningkatkan penjualan. Kemasan mempunyai arti yang penting di dalam mempengaruhi para konsumen langsung maupun tidak langsung di dalam menentukan pilihan terhadap produk yang akan dibelinya.
       Ada empat faktor yang bertujuan dalam peningkatan penggunaan kemasan (Kotler, 1997:77) yaitu:
a.    Swalayan, semakin banyak produk yang dijual secara swalayan di pasar swalayan dan toko diskon.
b.    Kemakmuran konsumen, meningkatnya kemakmuran konsumen berarti konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk kenyamanan, penampilan, keandalan dan gengsi dari kemasan yang lebih baik.
c.    Citra perusahaan dan merek, perusahaan mengakui kekuatan kemasan yang dirancang baik dalam menghasilkan pengalaman merek atau perusahaan secara seketika.
d.    Peluang inovasi, pengemasan yang inovatif dapat memberikan manfaat yang besar bagi konsumen dan laba bagi produsen.
Menurut Assauri (1996:90), ada empat fungsi dari kemasan yaitu:
a.    Untuk mencegah kerusakan secara fisik
b.    Untuk mencegah atau mempersukar pemalsuan atau peniruan
c.    Untuk menjamin kebersihan dan wadah “container” untuk produk yang berupa barang cair
d.    Sebagai alat komunikasi dengan memberikan keterangan pada kemasan tentang cara penggunaan, cara penyimpanan, komposisi produk dan lain sebagainya.
          Hal lain yang perlu diperhatikan produsen untuk meningkatkan jumlah penjualan berkaitan dengan strategi produk adalah pelayanan (service). Keberhasilan pemasaran produk sangat ditentukan oleh baik buruknya pelayanan yang diberikan perusahaan dalam memasarkan produknya.
          Kotler (1997:156) menjelaskan lebih lanjut bahwasanya :
Jika produk fisik tidak mudah dideferensiasi, kunci suksesnya terletak pada peningkatan pelayanan dan mutu. Pembeda pelayanan utama meliputi kemudahan pemesanan, pengiriman, pengemasan, pelatihan pelanggan, jasa konsultasi pelanggan, pemeliharaan dan perbaikan dan lain-lain.

        Dari uraian terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang baik dari suatu perusahaan sangat penting. Terutama dalam mewujudkan tujuan dan sasaran perusahaan yaitu memenuhi dan memuaskan kebutuhan konsumen atau pelanggan. Dengan memberikan pelayanan yang baik dapat memberikan suatu keuntungan bagi perusahaan.
         Kualitas produk merupakan hal yang perlu mendapat perhatian utama dari perusahaan, produsen mengingat mutu dan kualitas berkaitan erat dengan masalah kepuasan, yang merupakan tujuan dari kegiatan pemasaran perusahaan. Mutu merupakan salah satu alat utama untuk mencapai posisi produk. Mutu menyatakan tingkat kemampuan suatu merk atau produk tertentu dalam melaksanakan fungsinya.
         Assauri (1996:92) mendefinisikan “kualitas produk sebagai suatu yang menunjukkan ukuran tahan lamanya produk itu, dapat dipercayainya produk tersebut, ketepatan produk, mudah mengoperasikan dan memeliharanya serta atribut lain yang dinilai”. Pendapat lain dari Kotler (1999:37) mengatakan “Mutu produk merupakan salah satu hasil kegiatan perusahaan yang dapat menentukan daya saingnya”. Jadi mutu produk merupakan suatu indikator keberhasilan produk dalam bersaing di lingkungan pasarnya.


2.    Strategi Harga
        Harga merupakan unsur dalam strategi bauran pemasaran yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan dalam perusahaan yang berfungsi menciptakan leunggulan komparatif bagi perusahaan.
          Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan unsur lainnya hanya merupakan biaya saja. Mc Charty & Parreault (1995:56) berpendapat bahwa “harga adalah apa yang dikenakan untuk sesuatu, orang dapat memberi nama yang berbeda-beda, tetapi semua transaksi bisnis dalam perekonomian modern dapat dipandang sebagai alat pertukaran uang adalah harga untuk sesuatu”. Sesuatu itu dapat berupa produk fisik dalam berbagai tingkat kesempurnaan, dengan atau tanpa pelayanan dukungan, dengan atau tanpa jaminan mutu dan sebagainya.
         Sedangkan Kotler (1999:107) mengemukakan bahwa “Harga merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, elemen-elemen lainnya menimbulkan biaya”. Ahli lain Swastha & Irawan (1993:24) mengemukakan bahwa “Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk apabila mungkin yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dan produk dan pelayanannya”.
         Dari penjelasan yang telah diungkapkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa harga adalah jumlah uang yang ditetapkan oleh perusahaan yang digunakan untuk mendapatkan sejumlah produk fisik ataupun non fisik.
        Seperti yang telah diungkapkan dalam pengertian harga, bahwa harga merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan dalam perusahaan yang berfungsi menciptakan keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Namun seringkali terbentur pada kebijakan penetapan harga. Penetapan harga oleh perusahaan harus disesuaikan dengan situasi lingkungan dan perubahan yang terjadi terutama pada saat persaingan yang semakin ketat dan perkembangan permintaan yang terbatas.
       Penetapan harga yang dilakukan oleh perusahaan harus memperhatikan tujuan penetapan harga itu sendiri. Hal ini penting, karena tujuan merupakan dasar atau pedoman bagi perusahaan dalam menetapkan tingkat harga.
         Ada beberapa teknik penetapan harga suatu produk, berikut 5 diantaranya:
1)    Cost Plus mark-up, menambahkan modal atau biaya produksi dengan untung yang diharapkan.
2)    Competitive pricing, menyamakan harga produk berdasarkan harga jual competitor.
3)    Price skimming, menetapkan harga jual tinggi kemudian diturunkan secara bertahap. Biasanya teknik dilakukan pada produk langka/unik dan tak ada kompetitornya.
4)    Multiple unit pricing, memberikan potongan harga untuk pembelian dalam jumlah banyak.
5)    Bundling, menjual beberapa barang dalam satu harga. Hal ini bisa dilakukan agar barang cepat terjual.
       Assauri (1996:106) mengungkapkan adanya tujuan penetapan harga yaitu:
a.    Memperoleh laba yang maksimum
b.    Mendapatkan share pasar tertentu
c.    Memperoleh laba dari segmen pasar (market skimming)
d.    Mencapai tingkat hasil penerimaan penjualan maksimum
e.    Mencapai keuntungan yang ditargetkan
f.    Mempromosikan produk

           Sedangkan Keegan (1997:102) mengungkapkan bahwa “Tujuan penetapan harga oleh perusahaan adalah meraup laba pada segmen pasar (market skimming), penetrasi pasar, dan menambahkan laba pada biaya produksi (cost-plus)”. Sedangkan Kotler (1997:100) mengungkapkan yaitu ada enam tujuan yang ingin dicapai perusahaan dalam menetapkan tingkat harga, yaitu:
a.    Kelangsungan hidup (survival)
b.    Laba maksimum (maximum current profit)
c.    Pendapatan maksimum (maximum current revenue)
d.    Pertumbuhan penjualan maksimum (maximum sales growth)
e.    Skimming pasar maksimum (maximum market skimming)
f.    Kepemimpinan mutu produk (product quality leadership)

          Dari ketiga pendapat maka dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan dari penetapan harga adalah market skimming, memperoleh laba yang maksimal, dan mempertahankan pangsa pasar.
Harga yang ditetapkan perusahaan akan disesuaikan dengan strategi perusahaan secara keseluruhan dalam menghadapi situasi dan kondisi yang selalu berubah dan diarahkan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan untuk periode tersebut. Hal ini disebabkan karena penetapan harga mempunyai pengaruh langsung terhadap besarnya laba perusahaan, volume penjualan dan share pasar perusahaan.
Pada dasarnya strategi kesamaan harga yang ditetapkan oleh suatu perusahaan untuk suatu produk yang dihasilkan atau dipasarkan atas strategi harga yang sama atau seragam untuk seluruh daerah atau segmen pasar yang dilayani (single pricing) dan strategi harga yang tidak seragam untuk beberapa daerah atau segmen pasar (multi pricing). Perusahaan menetapkan harga yang tidak seram karena ada pertimbangan tujuan dan dan sasaran yang akan dicapai masing-masing segmen pasar serta situasi dan kondisi pasar tersebut.
         Strategi potongan harga (discount) digunakan perusahaan untuk meningkatkan jumlah penjualan dan hasil penerimaan penjualan serta share pasar penjualan.
         Strategi syarat pembayaran yang lunak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen. Oleh karena itu, produsen dapat menetapkan syarat pembayaran selunak mungkin tetapi tetap mempertimbangkan tujuan penetapan harga perusahaan serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi pasar serta sifat dan perilaku konsumen.


3.    Strategi Distribusi
        Dalam kaitannya dengan strategi saluran distribusi terdapat tiga aspek pokok yang berkaitan dengan strategi distribusi yaitu :
a.    Sistem transportasi perusahaan
b.    Sistem penyimpanan
c.    Sistem pemilihan saluran distribusi
        Sistem transportasi berkaitan dengan kegiatan membawa produk agar sampai ketangan konsumen, sedangkan sistem penyimpanan berkaitan dengan bagaimana caranya agar barang atau produk tidak rusak sewaktu disimpan sebelum dipasarkan. Berkaitan dengan siapa yang akan menyampaikan produk tersebut kepada konsumen diperlukan adanya sistem pemilihan distribusi.
         Dalam sistem distribusinya, produsen sering menggunakan perantara sebagai penyalurnya. Penyalur atau perantara (middleman) merupakan usaha bisnis yang berdiri sendiri dan beroperasi sebagai penghubung antara produsen dan konsumen akhir atau pemakai industry. Perantara tersebut memberikan pelayanan dalam hubungannya dengan pembelian dan penjualan barang dari produsen ke konsumen.


4.    Strategi Promosi
          Konsumen potensial merupakan peluang yang besar bagi produsen untuk memasukkan produknya, sehingga terjadi kesinambungan usaha perusahaan. Perusahaan berusaha menarik minat konsumen agar menjadi pelanggan produknya. Usaha yang perlu dilakukan adalah melalui promosi sebagai rangkaian rencana pemasaran secara keseluruhan. Strategi ini pada dasarnya merupakan proses komunikasi yang ditujukan untuk mempengaruhi perilaku konsumen kearah pengambilan keputusan yang positif dalam pembelian bagi perusahaan. Promosi menurut Mc Charty & Perreault (1995:64) yaitu “Promosi adalah komunikasi informasi antara penjual dan calon pembeli atau pihak-pihak lain dalam saluran untuk mempengaruhi sikap dan perilaku”. Stanton (1996:1380) mengungkapkan bahwa “Pada dasarnya promosi merupakan usaha dalam bidang informasi, himbauan (persuasi) dan komunikasi”. Sedangkan Swastha & Irawan (1993:139) berpendapat bahwa “Promosi adalah semua jenis kegiatan yang ditujukan untuk mendorong permintaan”. Maka dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran atau transaksi dalam pemasaran.
a.    Promosi
Ada beberapa faktor yang menjadi penentu kebijakan penggunaan promosi yang efektif sehingga mencapai tujuan dan pasar sasaran yang telah ditetapkan. Kotler (1997:88) mengungkapkan faktor-faktor yang menjadi penentu kebijakan penggunaan promosi yaitu :
1)    Tipe produk/pasar, pentingnya perbedaan dan alat promosi bervariasi antara pasar konsumen dan industri. Perusahaan produk konsumen biasanya mengalokasikan lebih banyak dana untuk iklan, menyusul promosi penjualan, penjualan perorangan, dan hubungan masyarakat. Sedangkan perusahaan industri mengalokasikan dananya sebagian besar untuk penjualan perorangan, dan lainnya digunakan untuk iklan, menyusul promosi penjualan, serta hubungan masyarakat.
2)    Strategi dorong dan tarik, strategi dorong adalah strategi promosi yang menggunakan tenaga penjual dan promosi perdagangan untuk mendorong produk lewat saluran distribusi. Sedangkan strategi tarik adalah strategi promosi yang banyak menggunakan biaya untuk periklanan dan promosi untuk menumbuhkan permintaan.
3)    Strategi daur hidup produk, tahap perkenalan iklan dan hubungan masyarakat baik untuk menghasilkan kesadaran serta promosi penjualan untuk penjualan awal. Sedangkan penjualan perorangan dilaksanakan agar pedagang mau menjual produk tersebut. Tahap pertumbuhan, iklan dan hubungan masyarakat terus memberikan pengaruh kuat, sedangkan promosi penjualan dapat dikurangi karena lebih sedikit insentif yang diperlukan. Tahap dewasa, promosi penjualan menjadi relative penting daripada iklan. Pembeli mengetahui merk iklan hanya diperlukan untuk mengingatkan mereka akan produk. Tahap penurunan, iklan tetap dilakukan untuk mengingatkan, dan tenaga penjual hanya sedikit mempertahankan produk. Akan tetapi, promosi penjualan dapat tetap dipertahankan.

Kotler (1997:11) mengungkapkan bahwa “periklanan merupakan bentuk presentasi bukan perorangan dan promosi gagasan, barang atau jasa, yang dibayar oleh sponsor tertentu”.
b.    Periklanan
Periklanan sebagai salah satu sarana promosi merupakan komunikasi massal dengan para pelanggan potensial melalui media komunikasi umum. Ini dimaksudkan untuk mempromosikan produk tertentu sekaligus menghasilkan goodwill bagi keseluruhan perusahaan atau industri.
Tujuan periklanan seperti diungkapkan oleh Kotler  (1997:137) adalah :
1)    Untuk menginformasikan pasar tentang suatu produk baru, mengusulkan kegunaan baru suatu produk, memberitahukan pasar tentang perubahan harga, menjelaskan cara kerja suatu produk.
2)    Untuk membujuk (membentuk preferensi merek, mendorong alih merek, mengubah persepsi pembeli tentang produk).
3)    Untuk mengingatkan (mengingatkan pembeli bahwa produk tersebut mungkin akan dibutuhkan kemudian, mengingatkan pembeli dimana dapat membelinya).

Menurut Assauri (1996:36) tujuan lain dari periklanan adalah:
Sasarannya yaitu untuk periklanan informatif (dilakukan secara besar-besaran dengan tujuan membentuk suatu permintaan pertama), periklanan persuasif (dilakukan dengan tujuan membentuk permintaan tertentu terhadap suatu merek tertentu), iklan mengingat (sangat penting dilakukan oleh produk yang sudah mapan untuk memberitahu konsumen bahwa produk tersebut masih ada).

Pilihan tujuan periklanan didasarkan pada analisis mendalam mengenai situasi pemasaran sekarang.
c.    Promosi Penjualan
Bila iklan menawarkan alasan untuk membeli maka promosi penjualan adalah menawarkan insentif untuk pembelian. Kotler (1997:57) mengungkapkan bahwa “promosi penjualan terdiri dari kumpulan kiat insentif yang beragam, kebanyakan berjangka pendek, dirancang untuk mendorong pembelian suatu produk atau jasa tertentu secara lebih cepat atau lebih besar oleh konsumen atau pedagang”.
Promosi penjualan mencakup kiat untuk promosi konsumen (sampel kupon, penawaran pengembalian uang, potongan harga, premi, hadiah, hadiah langganan, percobaan gratis, garansi, pajangan ditempat  pembelian dan demonstrasi), promosi perdagangan (potongan harga, tunjangan iklan, dan barang gratis), promosi bisnis dan wiraniaga (pameran dan konvensi perdagangan, kontes untuk wiraniaga, dan iklan khusus).
d.    Personal Selling
Gambaran tentang personal selling ini didukung oleh pendapat Assauri (1996:51) yang mendefinisikan “Personal selling adalah penyajian secara lisan oleh perusahaan kepada satu atau beberapa calon pembeli dengan tujuan agar produk yang ditawarkan dapat terjual”. Sedangkan Kotler (1997:48) menjelaskan “Personal selling adalah komunikasi pribadi dua arah antara wiraniaga dengan pelanggan individual, bisa dengan tatap muka, lewat telepon, konferensi, video, atau cara lain”.
Penjualan perorangan atau personal selling lebih menekankan pada pendekatan personal atau secara umum sebagaimana penjual berfungsi sebagai mata rantai kritis antara sebuah perusahaan dengan pelanggannya.
e.    Publisitas
Publisitas menurut ungkapan Assauri (1996:58) adalah “Stimulasi permintaan akan suatu produk dengan cara memuat berita yang mempunyai arti komersial, pemuatan berita ini pada dasarnya tidak dibayar oleh perusahaan sponsor”. Publisitas dilakukan oleh produsen melalui penyusunan berita dan informasi mengenai produknya yang menarik konsumen sehingga diharapkan dapat mempengaruhi keputusan konsumen. Sarana yang efektif digunakan untuk publisitas diantaranya adalah radio, televisi, atau pertunjukkan.
Bagi perusahaan besar, publisitas termasuk dalam bagian hubungan masyarakat, dimana kegiatannya ditunjukkan untuk mendapat goodwill. Bentuk kegiatannya dapat berupa pemberian pers, komunikasi perusahaan dan konsultasi.


5.    Volume Penjualan
a.    Pengertian Penjualan
         Menurut Basu Swastha HD (2002:403) “penjualan adalah interaksi antara individu saling bertemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran sehingga menguntungkan bagi pihak lain”. Penjualan dapat diartikan juga sebagai usaha yang dilakukan manusia untuk menyampaikan barang bagi mereka yang memerlukan dengan imbalan uang menurut harga yang telah ditentukan atas persetujuan bersama.
         Menurut Poerwadarminta (2004:14-20) volume adalah “isi atau besarnya benda/ruang” sedangkan penjualan menurut Basu Swastha HD (2000:2) adalah “ilmu dan seni mempengaruhi pribadi yang dilakukan oleh pihak penjual untuk mengajak orang lain agar bersedia membeli barang dan jasa yang ditawarkan”.
Jadi dengan adanya penjualan maka tercipta suatu proses pertukaran barang dan jasa antara pembeli dan penjual itu sendiri, dan dari proses jual beli tersebut, maka segala biaya produksi akan dapat dapat dipenuhi dan lebihnya merupakan keuntungan perusahaan.
         Sedangkan Winardi (2001:13) mendefinisikan sebagai berikut:
Penjualan adalah proses dimana seseorang penjual memastikan mengaktivitasi dan memuaskan kebutuhan atau keinginan sang pembeli agar dapat dicapai manfaat baik bagi penjual maupun bagi sang pembeli yang berkelanjutan dan menguntungkan kedua belah pihak.
          Dari definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya penjualan maka akan tercipta suatu proses pertukaran barang dan jasa antara pembeli dengan penjualan itu sendiri.


b.    Tujuan Penjualan
        Kemampuan perusahaan dalam menjual produknya menentukan keberhasilan dalam mencari keuntungan, apabila perusahaan tidak mampu menjual maka perusahaan akan mengalami kerugian. Menurut Basu Swastha  (2002:404) tujuan umum penjualan dalam perusahaan yaitu “mencapai volume penjualan, mendapatkan laba tertentu dan menunjang pertumbuhan perusahaan”.
       Tingkat volume penjualan yang merupakan tujuan daripada konsep pemasaran, artinya laba itu dapat diperoleh dengan menjual produk kepada konsumen. Dengan laba, perusahaan dapat memperkuat posisinya di dalam membina kelangsungan hidupnya, sehingga lebih leluasa menyediakan barang dan jasa yang dapat memberikan tingkat kepuasan yang lebih besar kepada konsumennya, serta dapat memperkuat kondisi.
Perekonomian secara keseluruhan, dapat juga dikatakan bahwa sebenarnya laba yang dicapai oleh suatu perusahaan dalam memberikan kepuasan konsumen. Untuk mencapai hal itu, perusahaan harus menyediakan serta menjual barang dan jasa tetapi juga tidak merugikan produsen, artinya dengan harga yang layak sehingga masing-masing pihak mendapat manfaat.
          Dengan demikian sasaran perusahaan dalam menjalankan tugas pokok serta mencapai tujuan sebagai unit usaha adalah meningkatkan volume penjualan. Hal ini merupakan sumber pendapatan bagi perusahaan dan penjualan salah satu kegiatan di dalam pemasaran. dengan kata lain sasaran utama dari pemasaran adalah untuk memperoleh peningkatan volume penjualan dari waktu ke waktu dalam periode tertentu.


c.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penjualan
        Aktivitas penjualan banyak dipengaruhi oleh faktor yang dapat meningkatkan aktivitas perusahaan, oleh karena itu manajer penjualan perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan menurut Basu Swastha (2000:40) sebagai berikut:
1)    Kondisi dan Kemampuan Penjual
        Kondisi dan kemampuan terdiri dari pemahaman atas beberapa masalah penting yang berkaitan dengan produk yang dijual, jumlah dan sifat dari tenaga penjual adalah:
a)    Jenis dan karakteristik barang atau jasa yang ditawarkan
b)    Harga produk atau jasa
c)    Syarat penjualan, seperti pembayaran, pengiriman
2)    Kondisi Pasar
         Pasar mempengaruhi kegiatan dalam transaksi penjualan baik sebagai kelompok pembeli atau penjual. Kondisi pasar dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni: jenis pasar, kelompok pembeli, daya beli, frekuensii pembelian serta keinginan dan kebutuhannya.
3)    Modal
       Modal atau dana sangat diperlukan dalam rangka untuk mengangkut barang dagangan ditempatkan atau untuk membesar usahanya. modal perusahaan dalam penjelasan ini adalah modal kerja perusahaan yang digunakan untuk mencapai target penjualan yang dianggarkan, misalnya dalam menyelenggarakan stok produk dan dalam melaksanakan kegiatan penjualan memerlukan usaha seperti alat transportasi, tempat untuk menjual, usaha promosi dan sebagainya.
4)    Faktor-Faktor Lain
        Faktor-faktor lain seperti periklanan, peragaan, kampanye, dan pemberian hadiah sering mempengaruhi penjualan karena diharapkan dengan adanya faktor-faktor tersebut pembeli akan kembali membeli lagi barang yang sama.

d.    Pengertian Volume Penjualan
         Volume penjualan merupakan hasil akhir yang dicapai perusahaan dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Volume penjualan tidak memisahkan secara tunai maupun kredit tetapi dihitung secara keseluruhan dari total yang dicapai. Menurut Kotler (2000:11) “volume penjualan adalah barang yang terjual dalam bentuk uang untuk jangka waktu tertentu dan didalamnya mempunyai strategi pelayanan yang baik”. Jadi volume penjualan adalah besarnya atau banyaknya barang yang dijual kepada konsumen melalui proses jual beli yang diukur dalam suatu ukuran tertentu seperti : ton, lembar, rupiah, dan sebagainya. Untuk mengetahui besarnya penjualan ini biasanya dapat dilihat dari laporan rugi laba setiap tahun buku dan membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sehingga dapat dibuat kesimpulan apakah bertambah, berkurang, atau berfluktuasi penjualan tersebut. Ada beberapa usaha untuk meningkatkan volume penjualan, diantaranya adalah:
1)    Menjajakan produk dengan sedemikian rupa sehingga konsumen melihatnya.
2)    Menempatkan dan pengaturan yang teratur sehingga produk tersebut akan menarik perhatian konsumen.
3)    Mengadakan analisa pasar.
4)    Menentukan calon pembeli atau konsumen yang potensial.
5)    Mengadakan pameran.
6)    Mengadakan discount atau potongan harga. 


6.    Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

          Warung adalah usaha kecil milik keluarga yang berbentuk kedai, kios, took kecil, atau restoran sederhana. Istilah “warung” dapat ditemukan di Indonesia dan Malaysia. Warung adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan keseharian rakyat. Terdapat banyak jenis warung umumnya berbentuk took kecil seperti gerobak dorong beratap yang menjual minuman dingin dalam kemasan botol (seperti teh botol), kudapan, permen, rokok, kerupuk, dan berbagai macam barang-barang keperluan sehari-hari. Bahkan terdapat warung terapung, yakni perahu yang difungsikan sebagai warung. Sementara warung yang menjual makanan umumnya dapat menjual makanan Asia dan Barat, makanan seperti nasi goreng dan bakso.
Bakso adalah jenis bola daging yang lazim ditemukan pada masakan Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioca, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang bahkan daging kerbau. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mie, bihun, taoge, tahu, terkadang telur dan ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso sangat popular dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia, dan gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar. Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk makanan beku yang dijual di pasar swalayan ataupun mal-mal, irisan bakso dapat juga dijadikan pelengkap jenis makanan lain seperti mie goreng, nasi goreng atau cap cai.
          Bakso memiliki akar dari seni kuliner Tionghoa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari istilah bakso berasal dari kata Bak-So dalam bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti daging giling karena kebanyakan penduduk Indonesia adalah muslim, maka bakso lebih umum terbuat dari daging halal seperti daging sapi, ikan, atau ayam. Kini kebanyakan penjual bakso adalah orang Jawa dari Wonogiri dan Malang.
Warung Bakso Barokah yang ada di Kota Makassar merupakan suatu usaha kecil yang berbasis usaha keluarga, yang memproduksi dan menjual bakso. Usaha ini memproduksi dan menjual tiga variasi makanan yang terdiri atas bakso, mie kuah dan mie goreng yang memiliki harga yang sangat terjangkau.


B.    Kerangka Pikir
          Pemasaran adalah kegiatan yang penting untuk dilakukan oleh setiap perusahaan  baik skala kecil maupun skala besar, pemasaran berarti memperlancar aliran produk dari produsen kepada konsumennya. Salah satu konsep pemasaran yang sangat penting adalah konsep tentang marketing mix, konsep ini mengkombinasikan empat unsur  dalam pemasaran yaitu produk, harga, promosi, dan distribusi menjadi sistem yang terkoordinasi yang dirancang untuk mencapai tujuan pemasaran. Kegiatan akhir dari pemasaran adalah penjualan, dari penjualan inilah akan didapatkan laba yang akan mampu menunjang kelangsungan hidup usaha.
         Penjualan merupakan kegiatan untuk melakukan hubungan jangka pendek dan jangka panjang dengan pelanggan, aktivitas penjualan ini adalah bagian yang memberikan input bagi perusahaan dan merupakan dasar pengukuran untuk menilai efektif dan efisien kegiatan pemasaran.
         Pada dasarnya konsep bauran pemasaran merupakan inti dari sistem pemasaran dan merupakan konsep yang tidak dapat dipisahkan, menyeluruh, dan terpadu. Penerapan konsep bauran pemasaran diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan. Pada umumnya untuk menilai berhasil tidaknya sistem pemasaran dapat ditinjau dan diteliti dari perkembangan volume  penjualan.
Warung Bakso Barokah perlu mengkombinasikan unsur-unsur bauran pemasaran untuk mencapai tujuan pemasaran.
          Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat dalam skema kerangka pikir berikut:

Marketing Mix
Marketing Mix 

C.    Hipotesis
    Hipotesis merupakan pendapat atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara. Hipotesis tersebut baru dapat diuji kebenarannya lewat penganalisaan dan penelitian. Hipotesis ini dapat berupa hubungan positif maupun negatif tergantung variabel yang diuji. Berdasarkan masalah pokok dan tujuan penelitian maka penulis merumuskan hipotesis yaitu sebagai berikut:
1.    Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara strategi produk dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
2.    Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara strategi harga dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
3.    Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara strategi distribusi/tempat dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
4.    Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara strategi promosi dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.

Labels: