Tuesday, 1 August 2017

Sharia Insurance and Conventional Insurance

This discussion is about Sharia Insurance and Conventional Insurance. For more details about Takaful and Conventional Insurance are as follows;

History of Sharia Insurance

The word insurance is taken from the dutch language, 'assurantie'. In Dutch law is called 'Verzekering', which means coverage. The term then develops into 'assuradeur' which means the insurer and the insured is called 'geassureerde'. In the Law of the Republic of Indonesia number 2 of 1992, the definition of insurance is an agreement between two or more parties; The insurer binds itself to the insured, accepting the insurance premium, to provide reimbursement to the insured due to loss, damage or loss of expected profit or legal liability to a third party which may be subject to the insured, arising from an uncertain event or for Provide a payment based on the death or life of an insured person.

The scope of the insurance business includes the financial services business by collecting public funds through the collection of insurance premiums. Insurance also provides protection to members of the community of insurance service users against the possibility of loss due to an uncertain event or on the life or death of a person.

Insurance Basics

Insurance in Arabic is called At-ta'min. The insured party is called mu'ammin and the insured party is called mu'amman lahu or musta'min. At-ta'min comes from the word amanah which means to provide protection, tranquility, security and freedom from fear. The term menta'minkan something means a person pays or provides installment money so that he or the person appointed to be his heirs get a replacement for lost property.

Sharia Insurance and Conventional Insurance
Sharia Insurance and Conventional Insurance

Philosophy
The underlying philosophy of Takaful insurance is that mankind is a big family of humanity. In order for common life to be established, humankind must help-help, mutual responsibility, and bear each other between one and the other. Tafakul yag means mutual bearing between human beings is the basis of the foundation of human activity as a social creature. On the basis of the footing, among the participants agreed to share among them the risks posed by death, fire, loss and so on. Thus, the Takaful system should be universal, generally applicable.

According to the National Shariah Council Fatwa of the Indonesian Ulema Council (DSN-MUI) on general guidance of Takaful insurance, Takaful is a mutual protection and help among some people through investment in assets and / or tabarru which provides a pattern of return to face risks Certain through akad (engagement) in accordance with sharia, responsible, cooperate and help each other, and protect each other. Meanwhile, in conventional insurance, we recognize the risk transfer system which means the transfer of risk from the insured to the insurer. Both systems are the basic difference from the definition of Takaful with conventional insurance.

According to Shaykh Abu Zahra, every individual in society is in a collateral or dependent of society. Any person who has the ability to become a guarantor with a virtue for every potential humanity in society shall ensure his brother for any deficiencies
.
The difference between sharia insurance and conventional insurance
In the law of the Republic of Indonesia number 2 of 1992, the definition of conventional insurance is the risk spillover that may occur to the insured (the insurer) to the insurer (insurance company). Thus, the elements contained in the definition of conventional insurance are:

A. First element; The insured party promised to pay the premium money to the insurer at once or gradually.
B. The second element; The insurer promised to pay some money to the insured, simultaneously or gradually, if implemented third element.
C. The third element; An event that was not immediately clear will happen.

Definition of conventional insurance
Here are some notions of conventional insurance based on several different viewpoints;

Economic Viewpoint
Insurance is a method to reduce risk by moving and combine the uncertainty of financial disadvantages.
Legal point of view
Insurance is a risk insurance contract between the insured and the insurer. Insurers promise to pay for the activities caused by the risks insured to the insured. Meanwhile, the insured pays a periodic premium to the insurer so that the insured exchange for large losses that may occur with a certain payment is relatively small.

Business viewpoint
Insurance is a company whose main business is receiving / selling services, transferring risks from other parties, and benefiting from the risks (sharing of risk) of the people who then invest the funds in various economic activities.

Social point of view
Insurance is defined as a social organization that receives the transfer of risk and collects funds from its members to pay the losses that may occur to each member. With the uncertainty of losses occurring to each member, members who have never suffered harm from a social point of view are contributors to the organization.

From various viewpoints it can be concluded that conventional insurance is transfer / risk transfer from the insured to the insurer or the term transfer risk. In the concept of Takaful, according to DSN-MUI, the risks that will occur are shared on the basis of ta'awun, namely the principle of mutual protection and mutual help on the basis of ukhuwah Islamiyah among members in the face of disaster.

Such is the discussion on Sharia Insurance and Conventional Insurance. Hopefully this article useful for all readers

Labels:

Monday, 31 July 2017

Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Pembahasan kali ini tentang Produk Kerajinan dari Bahan Lunak. Untuk lebih jelasnya, pembahasan mengenai Produk Kerajinan dari Bahan Lunak yaitu sebagai berikut;

Produk Kerajinan dari Bahan Lunak
 
Produk kerajinan lebih banyak memanfaatkan bahan-bahan alam seperti tanah liat, serat alam, kayu, bambu, kulit, logam, batu, rotan dan lain-lain. Ada juga yang memanfaatkan bahan sintetis sebagai bahan kerajinan seperti limbah kertas, plastik, karet. Pembuatan produk kerajinan di setiap daerah memiliki jenis kerajinan lokal yang menjadi unggulan daerah. Misalnya, Kasongan (Daerah Istimewa Yogyakarta), sumber daya alam yang banyak tersedia tanah liat, kerajinan yang berkembang adalah kerajinan keramik. Palu (Sulawesi Tengah), sumber daya alamnya banyak menghasilkan tanaman kayu hitam, kerajinan yang berkembang berupa bentuk kerajinan kayu hitam. Kapuas (Kalimantan Tengah), sumber daya alamnya banyak menghasilkan rotan dan getah nyatu sehingga kerajinan yang berkembang adalah anyaman rotan dan getah nyatu.n

Secara umum, jenis bahan dasar produk kerajinan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu produk kerajinan dari bahan lunak dan produk kerajinan dari bahan keras. Beberapa kerajinan bahan lunak serta pengemasannya akan diuraikan secara singkat pada penjelasan berikut ini. Namun, materi yang diuraikan disini merupakan contoh saja, kamu dapat mempelajarinya sebagai pengetahuan dan diharapkan dapat mengeksplorasi pengetahuan lainnya sebagai bahan pengayaan.

1. Pengertian Kerajinan dari Bahan Lunak
    Kerajinan dari bahan lunak merupakan produk kerajinan yang menggunakan bahan dasar yang bersifat lunak, beberapa bahan lunak yang digunakan dalam pembuatan produk kerajinan, yaitu seperti berikut;

a. Bahan Lunak Alami
    Bahan lunak alami adalah bahan lunak yang diperoleh dari alam sekitar dan cara pengolahannya juga secara secara alami tidak dicampur maupun dikombinasi dengan bahan buatan. Contoh bahan lunak alami yang kita kenal adalah tanah liat, serat alam, dan kulit.

b. Bahan Lunak Buatan
     Bahan lunak buatan adalah bahan untuk karya kerajinan yang diolah menjadi lunak. Beragam karya kerajinan dari bahan lunak buatan dapat dibuat berdasarkan bahan yang digunakan. Bahan-bahan yang digunakan bisa berupa bubur kertas, gips, fiberglas, lilin, sabun, spons dan sebagainya.

2. Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Produk kerajinan dari bahan lunak sangat beragam, mulai dari karya kerajinan yang digunakan untuk kebutuhan fungsi pakai dan karya kerajinan untuk hiasan.

Berikut ini contoh produk kerajinan dari bahan lunak;

a. Kerajinan dari Tanah Liat
    Kerajinan yang terbuat dari bahan tanah liat sering dikenal orang dengan kerajinan keramik. Kerajinan keramik adalah karya kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin, pembakaran, dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, vas bunga, guci, piring.

Gelas dari tanah liat
Cangkir dari Tanah Liat
Cobekan dari Tanah Liat
Cobekan dari Tanah Liat



Indonesia memiliki aneka ragam kerajinan keramik dari berbagai daerah yang memiliki ciri khas pada keunikan bentuk, teknik hingga ragam hias yang ditampilkan. Kekayaan hayati di Indonesia telah menginspirasi keindahan dan keunikan bentuk kerajinan keramik menjadi keramik Nusantara yang memiliki karakteristik tersendiri dan berbeda dengan keramik Cina, Jepang dan Negara lainnya.

b. Kerajinan dari Serat Alam
   Bahan-bahan serat alam dapat menghasilkan kerajinan tangan yang beraneka ragam, misalnya tas, dompet, topi. alas meja, tempat lampu. Teknik pembuatan kerajinan dari serat alam ini sebagian besar dibuat dengan cara menganyam. Contoh kerajinan dari serat alam yaitu sebagai berikut;

Tas dari Serat Alam
Tas dari Serat Alam

Dompet dari Serat Alam
Dompet dari Serat Alam


c. Kerajinan Kulit
    Kerajinan ini menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah disamak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya tas, sepatu, wayang. dompet, jaket. Kulit yang dihasilkan dari hewan seperti sapi, kambing, kerbau, dan buaya dapat dijadikan sebagai bahan dasar kerajinan.
Contoh kerajinan dari kulit yaitu sebagai berikut;
Sepatu dari Kulit
Sepatu dari Kulit

Tas dari Kulit
Tas dari Kulit
 

d. Kerajinan Gips
   Gips merupakan bahan mineral yang tidak larut dengan air dalam waktu yang lama jika sudah menjadi padat. Kandungan gips terdiri atas jenis zat hidrat kalsium sulfat dan beberapa mineral seperti karbonat, borat, nitrat, dan sulfat yang dapat terlepas sehingga gips dalam proses pengerasan akan terasa panas. Prosesnya harus dicairkan dahulu jika ingin bentuk seperti yang diinginkan, harus dibuat cetakan. Jika akan diproduksi dalam jumlah banyak, harus dibuat model terlebih dahulu. 

Hiasan Dinding dari Gips
Hiasan Dinding dari Gips

Secara umum, untuk semua produk gips diperlukan cetakan. Bahan utama pembuatan cetakan adalah silicone rubber, tetapi yang paling gampang dan mudah dicari adalah plastisin atau tanah liat.

Fungsi Kerajinan dari gips biasanya dapat berupa hiasan dinding, mainan dan sebagainya.

e. Kerajinan Lilin
    Pembuatan kerajinan bahan dasar lilin cukup sederhana dan mudah, dapat dilakukan oleh semua orang. Jika kita akan mengubah bentuknya menjadi benda kerajinan yang unik, tentunya perlu dicairkan dengan proses pemanasan di atas api/kompor. Contoh kerajinan dari lilin yaitu sebagai berikut;

Kerajinan dari Lilin
Lilin Hias


f. Kerajinan Sabun
    Kerajinan dari sabun sangat unik. Bahan yang diperlukan adalah sabun batangan. Sabun dapat diolah dengan dua cara. Pertama; mengukir sabun yang menghasilkan karya seperti binatang, buah, dan flora ukiran. Kedua, membentuk sabun, yaitu sabun diparut hingga menjadi bubuk, dicampur dengan sagu dan sedikit air, lalu dibuat dengan adonan baru seperti membuat bentuk dari palstisin. Berikut contoh produk kerajinan dari bahan sabun.

Bunga dari Sabun
Bunga dari Sabun

Kura-kura dari Sabun
Kura-kura dari Sabun 


g. Kerajinan Bubur Kertas
   Sisa-sisa kertas dapat dimanfaatkan untuk beraneka ragam karya kerajinan. Salah satu alternatif pemanfaatan sisa-sisa kertas adalah dibuat bubur kertas untuk bahan berkarya kerajinan. Proses pembuatan bubur kertas dapat dilakukan dengan langka-langkah berikut ini.
1. Siapkan kertas bekas, misalnya kertas tisu atau kertas koran. Robek atau gunting menjadi potongan-potongan kecil (lembut).
2. Masukkan potongan kertas ke dalam baskom atau ember plastik. Kemudian, siram dengan air hangat.
3. Masukkan 1 sendok teh garam. Garam bermanfaat untuk menghindarkan kertas busuk.
4. Potongan kertas yang telah dirandam dan diberi garam ini didiamkan selama 1-2 hari hingga menjadi lunak.
5. Dua hari kemudian atau setelah kertas menjadi lunak dan hancur, saring menggunakan kain (dapat menggunakan kain lap yang pori-porinya besar). Keempat tepi kain disatukan dan plintir, hingga air akan terpisah dari ampasnya.
6. Buang air perasan kertas. Kemudian, masukkan kembali potongan kertas-kertas yang sudah diperas airnya ke dalam wadah dan remas-remas hingga hancur. Tambahkan sedikit air ketika meremasnya.
7. Buat larutan pasta dengan mencampur 2 sendok makan tepung kanji dengan air secukupnya. Apabila pasta terasa terlalu cair, penggunaan tepung kanji dapat ditambah.
8. Campur adonan kertas dengan larutan pasta. Remas-remas hingga tercampur merata dan didapat adonan bubur kertas yang liat sehingga mudah untuk dibentuk.
Berikut contoh karya kerajinan dari bubur kertas.
Boneka dari Bubur Kertas
Boneka dari Bubur Kertas

Vas Bunga dari Bubur Kertas
Vas Bunga dari Bubur Kertas


3. Fungsi Produk Kerajinan dari Bahan Lunak

Fungsi produk kerajinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi karya kerajinan sebagai benda pakai dan fungsi karya kerajinan sebagai benda hias.

a. Karya kerajinan sebagai Benda Pakai
Karya kerajinan sebagai benda pakai meliputi segala bentuk kerajinan yang digunakan sebagai alat, wadah, atau dikenakan sebagai pelengkap busana. Sebagai benda pakai, produk karya kerajinan yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahannya hanyalah sebagai pendukung. Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda pakai.

Tas sebagai Benda Pakai
Kerajinan Tas


b. Karya Kerajinan sebagai Benda Hias
Karya kerajinan sebagai benda hias meliputi segala bentuk kerajinan yang dibuat dengan tujuan untuk dipajang atau digunakan sebagai hiasan atau elemen estetis. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan.
Berikut contoh karya kerajinan sebagai benda hias. 

Hiasan dinding sebagai benda hias
Kerajinan Hiasan Dinding

Demikian pembahasan mengenai Produk kerajinan dari Bahan Lunak. Semoga tulisan ini benrmanfaat bagi pembaca sekalian.

sumber: Buku Prakarya dan Kewirausahaan SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI semester 1

Labels:

Saturday, 22 July 2017

Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil

     Pembahasan kali ini membahas mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil. Untuk membahas lebih lanjut mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil, simak pembahasan dibawah ini :
Pengertian Kerajinan Tekstil
    Pengertian kata Tekstil adalah jalinan antara Lungsin dan pakan atau dapat dikatakan sebuah anyaman yang mengikat satu sama lain, tenunan dan rajutan. Tekstil dapat ditemukan pada kehidupan sehari-hari, yaitu kain biasa yang digunakan untuk pakaian sebagai kebutuhan sandang, sprei pelapis tempat tidur dan sarung bantal, taplak meja, kain yang dijahit menjadi tas dan produk kerajinan lainnya.
    Kerajinan Tekstil di Indonesia dapat dibagi menjadi kerajinan tekstil modern dan kerajinan tekstil tradisional. Kerajinan tekstil modern banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis atau fungsional, sedangkan kerajinan tekstil tradisional umumnya memiliki makna simbolis dan digunakan juga untuk kebutuhan upacara tradisional. Perkembangan saat ini para perancang atau desainer mulai memanfaatkan kembali kain tradisional Indonesia pada karya-karyanya. Para perancang atau desainer berusaha mengembangkan ide dari tekstil Indonesia agar menjadi lebih dikenal luas di masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia.
Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil
Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil

Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil
ada dua jenis-jenis kerajinan tekstil yaitu sebagai berikut :

1. Kerajinan Tekstil Modern
    Karya kerajinan tekstil, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut ;
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang dan fashion
   1) Busana
   2) Aksesoris
   3) Sepatu
   4) Topi
   5) Tas
b. Sebagai pelengkap interior
   1) Kain tirai
   2) Kain salut kursi
   3) Perlengkapan rumah tangga (cempal, alas makan dan minum, tudung saji, sarung bantal, sprei, keset, lap, dll)
   4) Aksesoris ruangan (wadah tissue, taplak, hiasan dekorasi ruangan, kap lampu, dll)
c. Sebagai wadah dan pelindung benda
   1) Tas Laptop
   2) Aneka tas
   3) Aneka wadah
   4) Aneka dompet
   5) dan lain-lain

    Produk kerajinan umumnya memanfaatkan bahan baku yang tersedia dan dihasilkan melalui keterampilan tangan dengan alat bantu sederhana serta diproduksi dalam jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu karya kerajina biasanya mempunyai ciri khas dari daerah yang membuatnya, demikian pula dengan produk kerajinan tekstil. Keragaman bahan baku dan keterampilan daerah di Indonesia menghasilkan keragaman produk kerajinan tekstil Indonesia. Produk kerajinan tekstil merupakan salah satu sumber budaya bangsa Indonesia yang dapat menjaga dan melestarikan keberadaan budaya setempat dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Untuk dapat mengembangkan tekstil tradisional Indonesia, kita harus mengenalnya lebih dalam.

2. Kerajinan Tekstil Tradisional Indonesia
    Karya kerajinan tekstil tradisional Indonesia, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut.
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang yang melindungi tubuh, seperti kain panjang, sarung dan baju daerah.
b. sebagai alat bantu atau alat rumah tangga, seperti kain gendongan bayi dan untuk membawa barang.
c. Sebagai alat ritual (busana khusus ritual tradisi tertentu), contohnya:
1) Kain tenun Ulos
2) Kain pembungkus kafan batik motif doa
3) Kain ikat celup Indonesia Timur (penutup jenazah)
4) Kain Tapis untuk pernikahan masyarakat daerah Lampung
5) Kain Cepuk untuk ritual adat di Pulau Nusa Penida
6) Kain Songket untuk pernikahan dan khitanan
7) Kain Poleng dari Bali untuk acara ruwatan (penyucian)
   Tekstil tradisional Indonesia berkembang dengan kreativitas setempat baik pengaruh dari suku maupun bangsa lain. Secara geografis, posisi Indonesia terletak pada persimpangan kebudayaan besar, antara dua benua Asia dan Australia, serta dua Samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Gelombang kontak perdagangan yang melewati wilayah negara kepulauan Indonesia memberikan pengaruh dan mengakibatkan akulturasi (percampuran) budaya yang tampak pada pengembangan karya kerajinan tekstil di Indonesia.
   Kain-kain tradisional di wilayah kepulauan Indonesia ini pada awalnya merupakan alat tukar atau barter yang dibawa oleh pedagang-pedagang pendatang dengan penduduk asli saat membeli hasil bumi dan rempah-rempah di Indonesia. Sekitar abad ke-15 Masehi, pedagang muslim Arab dan India melakukan kontak dagang dengan mendatangi pulau Jawa dan Sumatera. Pengaruh Islam secara langsung dapat dilihat pada tekstil Indonesia. Beberapa batik yang dibuat di Jambi dan Palembang di Sumatera, serta di Utara Jawam dibuat dengan menggunakan ayat-ayat yang berasal dari bahasa Arab Al-Qur'an.
   Di Indonesia juga terdapat kain sarung kotak-kotak dan polos yang banyak digunakan di Semenanjung Arab, Timur Laut Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Pada abad ke-13 pedagang Gujarat memperkenalkan Patola, yaitu kain dengan teknik tenun ikat ganda dari benang sutera yang merupakan busana Gujarat, Barat Laut India. Proses pembuatan kain Patola sangat rumit sehingga di India kain ini digunakan dalam berbagai upacara yang berhubungan dengan kehidupan manusia, seperti kelahiran, perkawinan dan kematian juga sebagai penolak bala.
   Melalui perdagangan dengan bangsa Gujarat, keberadaan kain Patola tersebar luas di kepulauan Nusantara. Kain Patola umumnya hanya dimiliki oleh kalangan terbatas. Penduduk setempat yang telah memiliki keterampilan menenun pun mencoba mereproduksi kain yang sangat berharga tersebut dengan tenun ikat pakan. Di Maluku, kain ini sangat dihargai dan dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang atau leher. Para penenun di Nusa Tenggara Timur mengembangkan corak kain tenun yang dipengaruhi oleh corak yang terdapat pada kain Patola, dengan corak yang berbeda untuk raja, pejabat, dan kepala adat dalam jumlah yang sangat terbatas dan hanya dikenakan pada upacara-upacara adat. Kain Patola dari Lio NTT ini ada yang dibuat sepanjang 4 meter yang disebut katipa yang berfungsi sebagai penutup jenazah.
   Motif Patola juga dikembangkan menjadi kain Cinde di daerah Jawa Tengah. Kain Cinde tidak dibuat dengan teknik tenun ikat ganda, tetapi dibuat dengan teknik direct print, cap atau sablon. Kain ini digunakan sebagai celana dan kain panjang untuk upacara adat, ikat pinggang untuk pernikahan, serta kemben dan selendang untuk menari. Kain serupa terdapat pula di Palembang, disebut kain Sembagi. Sembagi yang berwarna terang digunakan pada upacara mandi pengantin dan hiasan dinding pada upacara adat. Kain Sembagi yang berwarna gelap digunakan untuk penutup jenazah.
   Motif Patola mempengaruhi motif batik Jlamprang yang berwarna cerah yang berkembang di Pekalongan, dan motif Nitik yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta yang berwarna sogan (kecoklatan), indigo (biru), kuning dan putih. Corak Patola juga berkembang di Pontianak, Gorontalo, dan kain tenun Bentenan di Manado.
    Kain dengan teknik tenun ikat ganda dibuat di Desa Tenganan Pengeringsingan di Bali. Kain sakral tersebut dikenal dengan nama kain Gringsing yang artinya bersinar. Teknik tenun ikat ganda hanya dibuat tiga daerah di dunia, yaitu di Desa Tenganan Bali, Indonesia (Kain Gringsing), di Kepulauan Okinawa, Jepang (tate-yoko gasuri) dan Gujarat India (kain Patola). Teknik tenun ikat ganda adalah tenun yang kedua arah benangnya, baik benang pada lungsing maupun pakan diwarnai dengan teknik rintang warna untuk membentuk motif tertentu.
    Kreativitas bangsa Indonesia mampu mengembangkan satu jenis kain tenun Patola Gujarat menjadi beragam tekstil yang sangat indah di seluruh daerah di Indonesia. Contoh perkembangan kain Patola ini hanya salah satu dari bukti kreativitas tinggi yang dimiliki oleh bangsa kita.
    Pada tekstil tradisional, selain untuk memenuhi kebutuhan sandang, juga memiliki makna simbolis dibalik fungsi utamanya. Beberapa kain tradisional Indonesia dibuat untuk memenuhi keinginan penggunanya untuk menunjukkan status sosial maupun kedudukannya dalam masyarakat melalui simbol-sombol bentuk ragam hias dan pemilihan warna. Selain itu ada pula kain tradisional Indonesia yang dikerjakan dengan melantunkan doa dan menghiasinya dengan penggalan kata maupun kalimat doa sebagai ragam hiasnya. Tujuannya, agar yang mengenakan kain tersebut diberi kesehatan, keselamatan, dan dilindungi dari marabahaya.
   Kain tradisional Indonesia dibuat dengan ketekunan kecermatan yang telliti dalam menyusun ragam hias, corak warna maupun maknanya. Akibatnya, kain Indonesia yang dihasilkan mengundang kekaguman dunia internasional karena kandungan nilai estetikanya yang tinggi.

Demikin Pembahasan mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalin.

Labels:

Saturday, 8 July 2017

Empat Materi Ekonomi Makro

Pembahasan kali ini tentang Empat Materi Ekonomi Makro. Dalam buku Teori Makro Ekonomi Mankiw, dijelaskan tentang 4 materi utama yang paling penting dalam pembahasan ekonomi makro. Mengapa merupakan bagian terpenting akan dijelaskan berikut ini:

1. Dalam jangka panjang kapasitas negara untuk memproduksi barang dan jasa menentukan standar hidup penduduknya. Pada setiap pembahasan sebelumnya. inti dari pembahasan utamanya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi, karena peningkatan kapasitas produksi akan membuka peluang bagi perekonomian untuk semakin berkembang dan bertahan dalam kegoncangan krisis ekonomi, peningkatan kapasitas produksi menunjukkan bahwa indikator umum makro ekonomi seperti moneter, fiskal, pendapatan nsional dan distribusinya telah berjalan sesuai dengan tugasnya. Memang tidak ada suatu negara manapun didunia ini yang tergabung dalam ekonomi global mampu dengan baik menjalankan sistem indikator makro ekonominya karena selalu saja ada trade off dari setiap kebijakan. Sebagai misal, bila saja The FED (Bank Central US) ingin memperbaiki sistem moneter dinegaranya dalam bentuk kenaikan suku bunga yang bertujuan untuk menstabilkan perekonomiannya, justru akan menyebabkan banyak negara di dunia lainnya yang sangat bergantung pada pemodal US itu menjadi "kelabakan" karena setiap kenaikan suku bunga di US akan pengurangan modal masuk (capital inflow), sebaliknya setiap penurunan suku bunga akan menyebabkan melonjaknya harga saham yang akan menyebabkan lesunya perdagangan saham di negara lainnya. Padahal kebijakan itu bertujuan untuk kepentingan US sendiri. Contoh lain misalkan pemerintah Jepang dan Korea Selatan mendengungkan penggunaan hasil pertanian dalam negeri untuk meningkatkan kesejahteraan petaninya, ini menyebabkan produk pertanian dari US akan sangat sulit masuk dan jelas akan merugikan petani US. Mobil Jepang sangat laku di US, bila misalkan pemerintah US melarang masuk mobil Jepang karena membalas kebijakan membela petani, maka jelas Jepang akan mengalami kerugian yang sangat besar, padahal semua kebijakan masing-masing negara tadi dalam rangka memperbaiki dan melindungi masyarakatnya. Ini adalah sedikit contoh bahwa keberhasilan suatu negara mengatur indikator ekonomi makronya dengan baik dan benar relatif sangat sulit, sehingga itulah sebabnya adalah tidak mudah bagi suatu negara bisa menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah yang cukup dan memadai bagi penduduknya dalam waktu yang panjang dan selamanya karena adanya ketergantungan itu tadi. Banyak bukti negara-negara yang lepas (berani melepaskan diri atau menantang ) dari ketergantungan ekonomi global tidak bisa memperbaiki kualitas hidup penduduknya, misalkan Korea Utara, Irak dan Libya (sewaktu di isolir PBB), Myanmar (karena masalah HAM), Indonesia (masalah HAM dan Korupsi) dan lain sebagainya. Peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa itu bukan hanya bergantung pada banyak atau sedikitnya sumber daya alam suatu negara, akan tetapi juga sangat bergantung pada kemampuan suatu negara mengolahnya, apakah sumber daya manusianya cukup dan memadai, apakah sistem moneter (perbankan dan keuangan) handal, sistem hukum dan HAM konsisten dan lain sebagainya. Perhatikanlah Idonesia ini. Lihat dan rasakanlah betapa rendahnya kualitas hidup penduduknya. Pelanggaran sistem hukum berlangsung di depan mata dan didepan penegak hukum hanya untuk memanfaatkan peluang mendapatkan "makan", sistem pendidikannya (murid, guru/pengajar, fasilitas, departemen) yang tidak menghargai kualitas hanya karena berupaya mendapatkan sebanyak-banyaknya orang yang mengenyam pendidikan tanpa memandang perlu kualitas pendidikannya, kebanyakan peminmpinnya korupsi dan berlangsung didepan mata dan menjadi berita rutin serta dipandang sebagai hal yang biasa, dan seterusnya dan seterusnya.

Itulah sebabnya sistem tata laksana ekonomi  makro yang baik dan benar sangat mutlak dijalankan. dan memang ini memerlukan waktu yang panjang dan kemauan yang keras untuk menjalankannya dan itu bisa dimulai dari mempelajari teorinya agar kita bisa menjadi lebih arif dan bijak dalam menilai. 
 
Empat Materi Ekonomi Makro
Ekonomi Makro

2. Dalam jangka pendek permintaan agregat mempengaruhi jumlah barang dan jasa yang diproduksi negara. Permintaan adalah motor penggerak langsung pada perekonomian, karena permintaanlah yang menunjukkan kemampuan ekonomi penduduk suatu negara. Tingginya permintaan menunjukkan kemampuan ekonomi penduduknya dan itu berlaku sebaliknya apapun alasannya. Kebijakan stabilisasi selain fiskal dan moneter seperti kebijakan upah dan harga serta kebijakan perdagangan luar negeri akan sangat membantu untuk meningkatkan permintaan melalui pertumbuhan ekonomi, meskipun dalam batas tertentu peningkatan permintaan ini harus tetap diwaspadai sebab dalam hitungan tertentu permintaan yang terlalu tinggi akan menyebabkan produksi jumlah barang dan jasa menjadi tidak terkendali dan akan sangat berbahaya bagi perekonomian karena perekonomian akan semakin "panas" dan mudah "terbakar" (dalam arti perekonomian yang permintaan penduduknya tinggi atas barang dan jasa menyebabkan pembukaan kapasitas produksi terlalu cepat dan terlalu banyak sehingga cenderung tidak terkendali, baik dari dalam negeri dalam bentuk "pemaksaan produksi" maupun dari luar negeri berupa impor yang juga tidak terkendali ", ujung-ujungnya penduduk bisa terlalu konsumtif. Perhatikan perekonomian China tahun 2004-2006 yang tumbuh di atas 8%/tahun, yang menyebabkan perekonomian China melaju kencang, akibatnya pertumbuhan permintaan semakin tinggi, termasuk permintaan atas produk-produk impor yang sangat mahal dan hampir tidak bermanfaat untuk sarana produksi seperti mobil super mewah, kapal pesiar mewah dan lain sebagainya dan untuk itu pemerintah China terpaksa "mengerem" laju pertumbuhan ekonominya sebab akan sangat berbahaya dalam jangka panjang bila tidak dikendalikan.

3. Dalam jangka panjang pertumbuhan jumlah uang akan mempengaruhi inflasi akan tetapi tidak berpengarug terhadap pengangguran. Teori umum yang sering dipelajari adalah adanya hubungan antara pertumbuhan jumlah uang (beredar) dengan tingkat inflasi, hal ini adalah benar karena harus diakui uang benar-benar menjadi indikator kegiatan ekonomi. Bila pertumbuhan uang tinggi maka tingkat harga umum atas barang dan jasa akan tinggi, sebaliknya bila rendah maka rendah pula harga , tinggi rendahnya harga secara umum ini dalam jangka panjang menunjukkan tingkat inflasi yang terjadi dalam perekonomian. Berkaitan dengan inflasi adalah masalah pengangguran. Secara teoritis dalam jangka pendek memang ada hubungan antara tingkat inflasi terhadap pengangguran yang bersifat trade off , artinya semakin tinggi inflasi maka pengangguran rendah, sebaliknya inflasi yang rendah akan menyebabkan tingkat pengangguran tinggi. Dengan teori yang sederhana hubungan antara inflasi dan pengangguran bisa dijelaskan, akan tetapi bagaimana menjelaskan hubungan antara inflasi dan pengangguran dalam jangka panjang memang tidak bisa disederhanakan karena, selain masalah inflasi ada masalah besar lainnya yang menjadi faktor tinggi rendahnya pengangguran yaitu masalah penawaran dan permintaan tenaga kerja (struktur pasar tenaga kerja), pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya.

4. Dalam jangka pendek, pembuat kebijakan fiskal dan moneter (pemerintah) menghadapi trade off  antara indlasi dan pengangguran. Adanya trade off antara lain inflasi dan pengangguran sejatinya didasarkan pada hasil penelitian Philips yang menemukan fakta dari data series yang menunjukkan adanya trade off itu. Bila misalkan pemerintah melaksanakan kebijakan moneter melalui salah satu instrumennya yaitu pengetatan jumlah uang beredar, maka dalam jangka pendek akan menyebabkan tingkat pengangguran tinggi, mengapa? Karena ketatnya jumlah uang beredar menyebabkan suku bunga tinggi, sehingga masyarakat cenderung uuntuk menabung, akibatnya permintaan menjadi rendah, rendahnya permintaan akan mendorong turunnya harga, harga yang turun akan menyebabkan produsen menurunkan produksi dan membatasi pembukaan kapasitas produksi (hal ini juga disebabkan oleh tingginya suku bunga menyebabkan rendahnya investasi), sehingga wajar saja banyak perusahaan akan melakukan rasionalisasi atau paling tidak menunda  penambahan karyawan. Jadi bila misalkan pemerintah ingin menurunkan pengangguran dalam jangka pendek salah satu caranya adalah meloggarkan kebijakan peredaran uang, melakukan kebijakan fiskal dengan penstabil otomatik dan menurunkan suku bunga agar investasi semakin tinggi.

Demikian tulisan yang berjudul Empat Materi Ekonomi Makro, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Friday, 30 June 2017

Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro

Pembahasan kali ini saya akan membahas tentang Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro. Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro yaitu Tingkat kesempatan kerja yang tinggi, kapasitas produksi nasional yang tinggi, tingkat pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, keadaan perekonomian yang stabil, neraca pembayaran luar negeri yang seimbang dan distribusi pendapatan yang merata. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro dibawah ini:

Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro 
Kebijakan ekonomi makro yang dilakukan oleh setiap negara secara bersama-sama dilakukan oleh setiap negara secara bersama-sama dilakukan oleh pemerintah dan swasta bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dan mungkin timbul dalam perekonomian, di mana pemerintah sebagai regulatornya dan swasta sebagai pelaksananya. Diharapkan dari perpaduan tersebut akan dapat tercapai keadaan perekonomian yang diidam-idamkan seperti:

Tingkat Kesempatan Kerja yang Tinggi
Pada dasarnya negara manapun didunia ini tidak menginginkan adanya pengangguran dalam perekonomian, karena selain berdampak buruk bagi sendi kehidupan sosial masyarakat juga  merupakan beban ekonomi negara yang harus ditanggung baik dari segi ekonomi maupun politik. Dalam kondisi idela tidak adanya pengangguran  memang sangat diharapkan akan tetapi pada kenyataannya tingkat pengangguran dari tahun ke tahun selaku ada dan banyak, dan situasinya memang tidak dapat dihilangkan.  Apa yang dapat dilakukan oleh negara adalah mengurangi tingkat pengangguran sampai pada tingkat yang moderat (full employment) yaitu di mana semua lapangan pekerjaan yang disedikan oleh negara (swasta dan pemerintah) terisi penuh oleh para pencari kerja (angkatan kerja).

Kapasitas Produksi Nasional yang Tinggi
Untuk negara-negara yang tergolong masih berkembang dan terbelakang perekonomiannya, usaha peningkatan kapasitas produksi memanglah merupakan suatu keharusan, yaitu dengan cara  melakukan investasi di segala bidang yang sesuai dengan peruntukan dan kebutuhan yang tepat. Tingginya rendahnya kapsitas produksi tergantung dari tinggi rendahnya investasi, sedangkan  investasi (dalam negeri) tergantung dari tingkat tabungan dalam negeri (suku bunga), tingkat tabungan (dalam negeri) tergantung dari tingkat bunga dan pendapatan masyarakat. Dengan demikian untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri maka peningkatan  pendapatan masyarakat perlu dilakukan dengan cara meningkatkan  produktivitas masyarakat dan mengembangkan teknologi (pemberdayaan sumber daya).

Tingkat Pendapatan Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi
Tidak ada suatu ukuran standar mengenai bagaimana tinggi pendapatan  suatu negara yang harus dicapai, akan tetapi berdasarkan perbandingan pada  negara lain tentu saja dapat diketahui apakah  pendapatan nasioal suatu negara lebih besar atau lebih kecil dari negara lainnya. Tentu saja  kondisi yang diharapkan adalah bila pendapatan nasionalnya lebih tinggi dari pendapatan nasional  negara lain. Membandingkan tingkat pendapatan nasional suatu negara dengan negara lain adalah ukuran relatif, sedangkan untuk mendapatkan gambaran absolut adalah dengan  adalah dengan membandingkan pendapatan perkapita suatu negara dengan negara lain. Tingkat pendapatan perkapita adalah perbandingan antara pendapatan nasional suatu negara lain. Tingkat pendapatan perkapita adalah perbandingan antara pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduknya. Misalkan  negara A tahun 1996 berpenduduk 1000 jiwa dengan pendapatan nasional sebesar USD 5 juta dan tahun 1997 sebesar USD 5,5 juta,  sedangkan Negara B berpenduduk 10.000 jiwa dengan pendapatan nasional sebesar USD 8 juta  tahun 1996 dan USD 8,7 juta pada tahun 1997. Secara relatif maka negara B memiliki pendapatan nasional  yang tinggi dibandingkan dengan negara A, akan tetapi bila dibandingkan antara pendapatan perkapitanya (pendapatan perkapita = Pendapatan nasional dibagi dengan jumlah penduduk ) yaitu negara A yang  yang sebesar USD 5 juta/1000 = USD 5000, sedangkan negara B pendapatan perkapitanya adalah sebesar USD 8juta/10000 = USD 800. Dari pendapatan perkapita ini dapatlah diketahui bahwa secara absolut  negara A memiliki pendapatan nasional yang tinggi dibandingkan dengan negara B. Tingginya tingkat pendapatan nasional (berdasarkan pendapatan perkapita) mencerminkan tingginya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan  dan ini berarti bahwa tingkat kemakmuran masyarakatnya pun relatif baik.

Akan halnya dengan tingkat pendapatan nasional yang tinggi, maka tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dikarenakan tingginya pendapatan  nasional secara relatif, melainkan seberapa  besar produktivitas penduduk negara tersebut mampu meningkatkan pendapatannya secara kumulatif. Dengan demikian bila saja pertumbuhan jumlah penduduk relatif tetap diiringi oleh naiknya tingkat pendapatan perkapita maka pertumbuhan ekonomi dikatakan tinggi dihitung berdasarkan angka pendapatan nasional dengan rumus:
Rumus Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Rumus Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan rumus di atas maka dapat dihitung tingkat pertumbuhan ekonomi negara A sebagaimana ilustrasi di atas pada tahun 1997 sebagai berikut:
Rumus Tingkat Pertumbuhan Ekonomi


Berdasarkan hasil perhitungan tersebut di atas tampak bahwa meskipun negara B pertumbuhan pendapatan nasionalnya sebesar USD 0,7 juta pada tahun 1997 lebih besar dibandingkan dengan negara A yang hanya sebesar USD 0,5 juta pada tahun yang sama, akan tetapi ternyata pertumbuhan ekonomi negara A yang sebesar 10% pada tahun 1997 lebih besar dibandingkan dengan negara B yang hanya sebesar 8,75% pada tahun yang sama.

Satu hal yang perlu diperhatikan  mengenai pertumbuhan ekonomi adalah bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi tidak dapat berbeda besar pada akhir periode lima tahun dengan tingkat itu di awalnya kecuali di negara-negara yang baru pulih dari bencana (Lewis, 1994.h.188).

Keadaan Perekonomian yang Stabil 
Kestabilan yang diharapkan dalam perekonomian adalah kestabilan dalam hal tingkat pendapatan, kesempatan kerja dan terutama kestabilan pada tingkat harga-harga barang secara umum. Dalam pengertian yang lebih realistis perekonomian yang stabil bukanlah berarti suatu perekonomian yang kondisinya selalu megalami masa-masa booming terus menerus (tidak pernah terjadi penurunan atau peningkatan - kondisi ideal), akan tetapi suatu kondisi yang fluktuasi variabel ekonomi terutama harga-harga komoditi secara umum dan tingkat pendapatan bergerak/berubah dalam kondisi yang wajar. Untuk hal itu perhatikan gambar berikut:
Gambar Siklus Variabel Ekonomi
Gambar Siklus Variabel Ekonomi

Garis XY adalah kondisi pergerakan dari variabel ekonomi misalnya pendapatan nasional, tingkat harga-harga secara umum, pengangguran, dan lain sebagainya. Sedangkan garis AB adalah kondisi ideal bagi pergerakan variabel yang dimaksud. Garis putus-putus yang membatasi garis X sebelah atas dan Y sebelah bawah adalah garis batas peningkatan atau penurunan yang dapat ditolerir suatu perekonomian. Perekonomian yang melebihi batas tertinggi (biasanya diukur dengan rumus X + 2a dari GDP) dianggap membahayakan karena terlalu panas yang mana ditunjukkan oleh terlalu tingginya pendapatan nasional disertai tingginya tingkat harga-harga secara umum. Bila ini terjadi maka akan menyebabkan perekonomian biaya tinggi dan akan menggejalanya konsumtifisme dan demonstration effect yang mengarah pada kecemburuan sosial akibat tingginya tingkat pengangguran.

Bila perekonomian berada di bawah batas terendah garis XY (X - 2a), perekonomian akan berjalan dengan sangat lambat bahkan stagnan karena begitu rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan rendahnya tingkat harga sehingga mesin-mesin produksi tidak akan dioptimalkan karena keuntungan yang rendah dan skala investasi yang relatif tinggi. Pada kondisi ini tingkat pengangguran yang sebenarnya sudah rendah juga akan sia-sia karena tidak ada perusahaan yang mau membayar tenaganya secara layak. Hal ini selain disebabkan oleh rendahnya kapasitas produksi juga karena rendahnya tingkat keuntungan.

Pada umumnya kondisi sebagaimana yang tergambar pada garis AB sangat jarang terjadi, karena beberapa variabel tersebut terkadang saling berpengaruh tapi kadang juga saling asing (artinya penyebab perubahan satu variabel katakanlah pengangguran yang tinggi bukanlah disebabkan oleh rendahnya tingkat pendapatan nasional yang menyebabkan rendahnya tabungan masyarakat dan berujung pangkal pada rendahnya pembukaan kapasitas produksi baru, mungkin juga disebabkan oleh faktor lain misalnya tingkat pendidikan, kesenjangan informasi dan lain-lain). Yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan kondisi agar pergerakan variabel ekonomi tersebut tidak terlalu jauh dari kondisi ideal. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pergerakan beberapa variabel tersebut mengalami masa turun naik yang masih dalam batas-batas kemampuan ekonomi suatu negara, dengan demikian dapat dikatakan bahwa relatif perekonomian negara yang dimaksud stabil.

Neraca Pembayaran Luar Negeri yang Seimbang
Neraca  pembayaran (Balance of Payment) adalah ikhtisar sistematis dari semua transaksi ekonomi dengan luar negeri selama jangka waktu tertentu dinyatakan dalam uang (biasanya dalam satuan dolar Amerika Serikat). Dalam neraca pembayaran tersebut beberapa hal penting yang perlu diketahui adalah Neraca perdagangan, Transaksi berjalan dan lalu lintas moneter. Sebagai gambaran berikut disajikan Neraca Pembayaran Indonesia seperti di bawah ini:

Neraca Pembayaran Indonesia
Perhatikan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada tahun tersebut mengalami surplus yang berarti nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor barang. Itu artinya kita mendapatkan devisa sebesar nilai surplus tersebut. Selanjutnya transaksi berjalan yang merupakan pengurangan dari neraca perdagangan dengan impor jasa ditambah dengan ekspor jasa bernilai positif berarti mengalami surplus, artinya nilai bersih ekspor barang dan jasa lebih besar dibandingkan dengan nilai impor barang dan jasa pada tahun tersebut. Pada point E Lalu Lintas Moneter (LLM) pada tahun 2001 bernilai positif (yang berarti pada tahun itu terdapat cash inflow untuk menutupi selisih dari yang belum diperhitungkan. Bila selisih yang belum diperhitungkan positif itu artinya terdapat kelebihan cash hak Indonesia yang belum diperhitungkan mungkin saja karena selisih kurs, salah atau kekeliruan menghitung dan karena lain sebab, dan oleh karena selisih antara transaksi modal dengan transaksi berjalan mengalami defisit maka untuk menyeimbangkan anggaran Indonesia memerlukan dana cash dari luar. Sebaliknya misalkan selisih A dan B bernilai positif dan poin D negatif, maka pastilah LLM bernilai negatif yang pengertiannya sama dengan di atas), sedangkan pada tahun berikutnya bernilai negatif artinya cash outflow.

Dengan demikian secara umum neraca pembayaran luar negeri Indonesia pada tahun 2001-2003 mengalami surplus.

Dari segi tinjauan ekonomi murni neraca pembayaran yang surplus dan defisit umumnya tidak diinginkan oleh pemerintah suatu negara (neraca pembayaran surplus menyebabkan penawaran devisa lebih bayak di dalam negeri yang relatif akan menyebabkan nilai tukar mata uang lokal di dalam negeri menjadi lebih mahal, sehingga nilai impor akan semakin murah dan ini akan berdampak pada matinya industri asli di dalam negeri, dan dalam jangka menengah justru akan menguras devisa kembali. Sedangkan bila neraca pembayaran defisit berarti jumlah penawaran devisa di dalam negeri semakin sedikit, dan ini akan berdampak pada semakin turunnya nilai mata uang lokal terhadap devisa tersebut sehingga nilai impor akan semakin mahal. Bila ini terjadi maka industri di dalam negeri yang berbasiskan impor - bahan baku utama masih diimpor, akan mengalami kesulitan dan akibatnya adalah harga komoditi impor tersebut dijual dengan harga yang lebih mahal dan dapat ditebak yang akan terjadi adalah tingkat inflasi meningkat atau industri tersebut akan mati, akan tetapi dari segi politik neraca pembayaran yang surplus lebih diinginkan karena lebih mencerminkan ketekatan suatu bangsa untuk lebih maju dari pembangunan sebelumnya, dan juga memberikan gambaran betapa negara tersebut lebih baik mengelola perekonomiannya.

Distribusi Pendapatan yang Merata
Keadilan pembagian rezeki dari hasil mengelola sumber daya baik alam maupun manusia dari suatu negara adalah di mana pendapatan yang diperoleh dapat dinikmati secara merata oleh rakyatnya, dalam arti distribusi pembagian pendapatan yang relatif adil. Artinya sebagian besar pendapatan negara dinikmati oleh sebagian besar golongan masyarakat dalam perekonomian tersebut. Dengan meratanya pembagian pendapatan diharapkan tingkat konsumsi masyarakat juga relatif lebih baik. Dan pada muaranya diharapkan akan terjadi kehidupan yang tidak bertendensi pada keresahan dan kerusuhan sosial.

Beberapa cara untuk menghitung dan menentukan mengenai tingkat distribusi pendapatan dalam masyarakat suatu negara telah banyak dikembangkan dan dikemukakan oleh para pakar ekonomi makro khususnya cabang ilmu ekonomi makro yaitu ekonomi pembangunan dan perencanaan. Akan tetapi beberapa diantaranya yang paling sering dipergunakan adalah Indeks Gini atau Gini Koefisien atau Gini Ratio yang merupakan kesimpulan matematis dari studi empiris Lorenz yang terkenal dengan Kurve Lorenz sehubungan dengan distribusi pendapatan tersebut. Gini Ratio digunakan untuk mengukur distribusi pendapatan masyarakat secara umum/global, sedangkan untuk mengukur distribusi pendapatan masyarakat antar daerah digunakan rumus Indeks Williamson.

Demikian pembahasan tentang Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

 

Labels:

Sunday, 4 June 2017

Masalah Ekonomi Makro

     Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas tentang Masalah-Masalah Ekonomi Makro. Masalah ekonomi makro terdiri atas inflasi, pengangguran, neraca pembayaran yang timpang, pertumbuhan penduduk yang tinggi dan kapasitas produksi yang rendah.

    Ilmu Ekonomi Makro merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mengkhususkan mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian secara keseluruhan. Tujuan ilmu ekonomi makro adalah untuk memahami peristiwa/fenomena ekonomi dan untuk memperbaiki kebijakan ekonomi. Dari sini diperoleh gambaran bahwa ilmu ekonomi makro bukanlah alat/doktrin perekonomian akan tetapi metode yang berguna untuk membantu mengembangkan pemikiran tentang bagaimana cara bekerja dan memperbaiki kondisi perekonomian.
    Secara umum permasalahan dalam ekonomi makro dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Masalah jangka pendek atau kadang disebut juga masalah stabilisasi. Masalah ini berhubungan dengan bagaimana men"drive" perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya dalam jangka pendek (bulan, tahun) agar dapat terhindar dari masalah ekonomi makro yaitu: a. inflasi yang besar dan berkepanjangan, b. Tingkat pengangguran terbuka yang besar, dan c. Ketimpangan dalam neraca pembayaran.
2. Masalah jangka panjang atau kadang disebut juga sebagai masalah pertumbuhan. Masalah ini berhubungan dengan bagaimana men''drive'' perekonomian agar tetap berada dalam kondisi keserasian antara pertumbuhan jumlah penduduk, pertambahan kapasitas produksi dan tersedianya dana untuk investasi (dengan program penggalakan tabungan masyarakat).

Masalah-Masalah Ekonomi Makro
Masalah Ekonomi Makro

Inflasi (Inflation)
Inflasi adalah naiknya harga-harga komoditi secara umum disebabkan oleh tidak sinkronnya antara program sistem pengadaan komoditi (produksi, penentuan harga, pencetakan uang dan lain sebagainya) dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh mesyarakat. Sebenarnya inflasi bukan masalah yang terlalu berarti apabila keadaan tersebut diiringi oleh tersedianya komoditi yang diperlukan secara cukup dan ditimpali dengan naiknya tingkat pendapatan yang lebih besar dari % tingkat inflasi tersebut (daya beli masyarakat lebih besar dari tingkat inflasi). Akan tetapi manakala biaya produksi untuk menghasilkan komoditi semakin tinggi yang menyebabkan harga jualnya juga menjadi relatif tinggi sementara disisi lain tingkat pendapatan masyarakat relatif tetap maka barulah inflasi ini menjadi sesuatu yang membahayakan apalagi bila berlangsung dalam waktu yang relatif lama dengan porsi berbanding terbalik antara tingkat inflasi terhadap tingkat pendapatan (daya beli).

Pengangguran (Unemployment)
Pengangguran sejatinya terjadi karena adanya kesenjangan antara penyediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja yang mencari pekerjaan. Selain itu pengangguran bisa juga terjadi meskipun jumlah kesempatan kerja tinggi akan tetapi terbatasnya informasi, perbedaan dasar keahlian yang tersedia dari yang dibutuhkan atau bahkan dengan sengaja memilih untuk menganggur (pengangguran sukarela). Oleh karena pengangguran selalu saja ada dalam suatu perekonomian, maka sebenarnya pengangguran itu bukanlah masalah yang berat dan membahayakan, karena sesuatu yang selalu ada dan bahkan harus selalu ada termasuk hal yang menguntungkan bila bisa dikelola dengan baik dalam  kondisi yang juga baik.

Dalam analisa ilmu ekonomi makro, kondisi yang diharapkan bukanlah bagaimana  mempekerjakan semua tenaga kerja yang mencari pekerjaan dengan menyediakan lapangan kerja  bagi mereka secara sporadis, karena akan membahayakan kondisi perekonomian bila ditinjau dari sisi lainnya , akan tetapi bagaimana caranya agar setiap lowongan kerja yang disediakan pada suatu periode oleh para pencari kerja inilah yang disebut dalam ilmu ekonomi sebagai 'Full Employment". Ingatlah bahwa kondisi full employment bukanlah kondisi yang sama sekali tidak ada pengangguran. 

Neraca Pembayaran yang Timpang
Neraca pembayaran atau Balance of Payment (BOP) adalah catatan  tentang transaksi ekonomi internasional suatu negara terhadap negara lainnya dalam kurun waktu tertentu (umumnya dalam  dala periode 1 tahun). Dalam BOP ini akan terlihat kemampuan/produktivitas penduduk suatu negara  terhadap penduduk negara lainnya yang tercermin dari defisit atau surplusnya suatu perdagangan  dan keluar masuk modal. Sepintas akan sangat menguntungkan bila BOP suatu negara mengalami  surplus, dan sangat merugikan bila defisit, akan tetapi tidak demikian kenyataan dalam politik ekonominya.
Neraca pembayaran yang timpang maksudnya adalah adanya kesenjangan antara jumlah perolehan dari ekspor dengan pembayaran untuk impor. Bila impor terlalu besar maka devisa akan semakin semakin berkurang, nilai tukar mata uang lokal relatif akan jatuh, industri dalam negeri berbasis impor akan banyak yang mati dan lain sebagainya. Sedangkan bila ekspor terlalu besar maka nilai mata uang lokal akan menguat terhadap mata uang luar negeri (valas) dan akan berdampak pada semakin naiknya impor yang akan menyebabkan matinya industri yang berbasiskan bahan baku dalam negeri (bahan baku asli negeri sendiri). Itulah sebabnya neraca pembayaran luar negeri haruslah seimbang (diusakahan seimbang).

Pertumbuhan penduduk yang tinggi
Untuk masalah jangka panjang seperti tingkat pertumbuhan penduduk memang menjadi semacam dilema bila dibandingkan denga program pemerintah lainnya yaitu pertumbuhan ekonomi yang  tinggi, peningkatan kesehatan dan harapan hidup masyarakat serta program-program lainnya. Dahulu Malthus pernah meramalkan bahwa pada  masanya suatu negara (dunia) akan menghadapi masalah yang sangat pelik yaitu bagaimana menghidupi dan mencukup kebutuhan penduduk  dengan jumlah pangan terbatas. Malthus beranggapan bahwa karena jumlah tanah tidak  bertambah dan bahwa pertambahan jumlah penduduk mengikuti deret ukur sementara pertambahan pangan mengikuti deret hitung maka bencanalah yang akan dialami. Akan tetapi meskipun pada kenyataannya ramalan Malthus itu hingga saat ini belum sepenuhnya terbukti karena perkembangan teknologi yang memungkinkan pangan dapat dihasilkan dengan jumlah berlipat ganda untuk memenuhi kebutuhan penduduk, akan tetapi tanda-tanda kekurangan pangan  semakin nyata diberbagai belahan dunia (khususnya Afrika) karena jumlah penduduk yang banyak sementara jumlah pangan terbatas. Oleh karena  itu, pembatasan pertumbuhan penduduk menjadi  program dunia (jadi bukan masalah satu atau masing-masing negara saja).
Secara teori pertumbuhan penduduk  yang besar bila diikuti oleh tingkat produktivitas yang tinggi akan menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi. Tingginya pertumbuhan ekonomi akan  mampu meningkatkan kesejahteraan dan tingkat pendidikan dan pada akhirnya akan mampu  memperbaiki mutu dan citra hidup. Akan tetapi masalahnya bukanlah disitu, melainkan ternyata  media berupa tanah (bumi) ini tidaklah bertambah dan bila dieksploitasi berjalan terus menerus tanpa memperhatikan daya dukung dan daya tahannya maka akan secara cepat pula kemampuannya menurun dan bila ini diteruskan akan akan berdampak pada kemiskinan/bencana  evolutif. Untuk menghindari agar kejadian ini tidak cepat terjadimaka setiap pemerintah suatu negara menjalankan program kependudukan untuk mengatur jumlah kelahiran agar daya dukung ekonomi dapat seirama dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Peningkatan Kapasitas Produksi (kapasitas produksi yang rendah)
Peningkatan kapasitas produksi berhubungan dengan tingkat investasi dan investasi berhubungan dengan tingkat tabungan masyarakat, sedangkan tingkat tabungan masyarakat berhubungan  dengan tingkat pendapatan dan konsumsinya. Jadi bila kapasitas produksi ingin ditingkatkan  maka tabungan haruslah juga ditingkatkan agar investasi dapat pula ditingkatkan. Masalah yang timbul adalah bagaimnakah menyerap kelebihan  kapasitas produksi tersebut bila tabungan masyarakat tinggi yang berarti tingkat konsumsinya relatif rendah. Inilah yang disebut  dengan Paradoks Hemat itu. Di satu sisi daya konsumsi masyarkat akan mendorong investor  untuk segera membuka kapasitas produksi baru  9membangun pabrik, membeli mesin-mesin0, dan pembukaan kapasitas produksi ini akan membuka dan menyerap lapangan kerja. Di sisi lain masyarakat diharapkan berhemat dengan cara  memperbesar tabungan dan tabungan itu akan dipergunakan untuk investasi. 
         Itulah sebabnya mengapa pencarian dan pembukaan  pasar baru diluar negeri untuk menyerap kelebihan produksi di dalam negeri  perlu dilakukan. Dan untuk mengisi kekurangan  dana tabungan yang akan dipergunakan untuk investasi di dalam negeri maka pemerintah selalu berusaha menarik para investor dari luar negeri agar mau menanamkan modalnya di dalam negeri tersebut.

Demikian tulisan yang berjudul Masalah-Masalah Ekonomi Makro, semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Tuesday, 18 April 2017

Daftar Pustaka Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                 DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka
Strategi Bauran Pemasaran
 
Assauri, S. 1996. Manajemen Pemasaran Dasar Konsep dan Strategi. Jakarta : Rajawali Press.

Basu Swastha dan Irawan. 2000. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.

Basu Swastha HD. 2002. Manajemen Pemasaran Analisa Perilaku Konsumen, Edisi 1 Cetakan kedua. Yogyakarta: Liberty.

Downey & Erickson. 2002. Manajemen Agribisnis. Edisi Ketiga. Terjemahan Ganda S. dan Alfonsus Sirait. Jakarta: Erlangga.

Keegan, WJ. 1997. Manajemen Pemasaran Global Jilid I. Terjemahan Alexander Sindoro. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran (Analisis Perencanaan Implementasi dan Pengendalian). Terjemahan oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli. Jakarta: Erlangga.

Kotler, P., dan Amstrong. 1999. Dasar-Dasar Pemasaran Jilid 2. Terjemahan Alexander Sindoro. Jakarta: Perrihalindo.

Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Control, Terjemahan Edisi kedelapan, jilid 1. Jakarta: Prenhalindo.

Mc. Carthy, Jerone, E dan William D. Perreault, Jr. 1995. Dasar-Dasar Pemasaran, Edisi Kelima, Alih Bahasa: Agus Dharma. Jakarta: Erlangga.

Poerwadarminta,WJS. 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Stanton, WJ. 1996. Prinsip Pemasaran. terjemahan oleh Agus Budiyanto. Jakarta: Erlangga.

Swastha, B, dan Irawan. 1993. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: BPFC YKPN.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Tjiptono, Fandy. 1995. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi Ofset.

Winardi. 2001. Marketing dan Perilaku Konsumen. Bandung: CV Mendar Mas.





Labels:

Kesimpulan dan Saran pada Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                            BAB V
                                                        KESIMPULAN DAN SARAN

 
A.    Kesimpulan
     Berdasarkan hasil penelitian pengaruh strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Strategi produk tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena produk yang dijual kurang bervariasi.
2.    Strategi harga tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena tidak menerapkan diskon dalam penjualan produknya.
3.    Strategi distribusi tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena hanya membuka satu cabang usaha saja.
4.    Strategi promosi tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena kurangnya promosi yang dilakukan.


Marketing Mix
Marketing Mix

B.    Saran
      Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1.    Warung Bakso Barokah diharapkan dapat menerapkan strategi bauran pemasaran yang baik yaitu dengan menambah variasi produk, menerapkan diskon dalam penjualan produknya, menambah cabang usahanya, dan meningkatkan promosi dalam penjualan produknya. Sehingga jika ini dilakukan dapat meningkatkan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
2.    Sebaiknya Warung Bakso dapat menambah jumlah karyawannya, agar dapat meningkatkan jumlah produksi dan dapat meningkatkan volume penjualan.

Labels: