Saturday, 22 July 2017

Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil

     Pembahasan kali ini membahas mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil. Untuk membahas lebih lanjut mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil, simak pembahasan dibawah ini :
Pengertian Kerajinan Tekstil
    Pengertian kata Tekstil adalah jalinan antara Lungsin dan pakan atau dapat dikatakan sebuah anyaman yang mengikat satu sama lain, tenunan dan rajutan. Tekstil dapat ditemukan pada kehidupan sehari-hari, yaitu kain biasa yang digunakan untuk pakaian sebagai kebutuhan sandang, sprei pelapis tempat tidur dan sarung bantal, taplak meja, kain yang dijahit menjadi tas dan produk kerajinan lainnya.
    Kerajinan Tekstil di Indonesia dapat dibagi menjadi kerajinan tekstil modern dan kerajinan tekstil tradisional. Kerajinan tekstil modern banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis atau fungsional, sedangkan kerajinan tekstil tradisional umumnya memiliki makna simbolis dan digunakan juga untuk kebutuhan upacara tradisional. Perkembangan saat ini para perancang atau desainer mulai memanfaatkan kembali kain tradisional Indonesia pada karya-karyanya. Para perancang atau desainer berusaha mengembangkan ide dari tekstil Indonesia agar menjadi lebih dikenal luas di masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia.
Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil
Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil

Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil
ada dua jenis-jenis kerajinan tekstil yaitu sebagai berikut :

1. Kerajinan Tekstil Modern
    Karya kerajinan tekstil, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut ;
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang dan fashion
   1) Busana
   2) Aksesoris
   3) Sepatu
   4) Topi
   5) Tas
b. Sebagai pelengkap interior
   1) Kain tirai
   2) Kain salut kursi
   3) Perlengkapan rumah tangga (cempal, alas makan dan minum, tudung saji, sarung bantal, sprei, keset, lap, dll)
   4) Aksesoris ruangan (wadah tissue, taplak, hiasan dekorasi ruangan, kap lampu, dll)
c. Sebagai wadah dan pelindung benda
   1) Tas Laptop
   2) Aneka tas
   3) Aneka wadah
   4) Aneka dompet
   5) dan lain-lain

    Produk kerajinan umumnya memanfaatkan bahan baku yang tersedia dan dihasilkan melalui keterampilan tangan dengan alat bantu sederhana serta diproduksi dalam jumlah yang terbatas. Oleh sebab itu karya kerajina biasanya mempunyai ciri khas dari daerah yang membuatnya, demikian pula dengan produk kerajinan tekstil. Keragaman bahan baku dan keterampilan daerah di Indonesia menghasilkan keragaman produk kerajinan tekstil Indonesia. Produk kerajinan tekstil merupakan salah satu sumber budaya bangsa Indonesia yang dapat menjaga dan melestarikan keberadaan budaya setempat dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Untuk dapat mengembangkan tekstil tradisional Indonesia, kita harus mengenalnya lebih dalam.

2. Kerajinan Tekstil Tradisional Indonesia
    Karya kerajinan tekstil tradisional Indonesia, secara fungsi dapat dibagi sebagai berikut.
a. Sebagai pemenuhan kebutuhan sandang yang melindungi tubuh, seperti kain panjang, sarung dan baju daerah.
b. sebagai alat bantu atau alat rumah tangga, seperti kain gendongan bayi dan untuk membawa barang.
c. Sebagai alat ritual (busana khusus ritual tradisi tertentu), contohnya:
1) Kain tenun Ulos
2) Kain pembungkus kafan batik motif doa
3) Kain ikat celup Indonesia Timur (penutup jenazah)
4) Kain Tapis untuk pernikahan masyarakat daerah Lampung
5) Kain Cepuk untuk ritual adat di Pulau Nusa Penida
6) Kain Songket untuk pernikahan dan khitanan
7) Kain Poleng dari Bali untuk acara ruwatan (penyucian)
   Tekstil tradisional Indonesia berkembang dengan kreativitas setempat baik pengaruh dari suku maupun bangsa lain. Secara geografis, posisi Indonesia terletak pada persimpangan kebudayaan besar, antara dua benua Asia dan Australia, serta dua Samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Gelombang kontak perdagangan yang melewati wilayah negara kepulauan Indonesia memberikan pengaruh dan mengakibatkan akulturasi (percampuran) budaya yang tampak pada pengembangan karya kerajinan tekstil di Indonesia.
   Kain-kain tradisional di wilayah kepulauan Indonesia ini pada awalnya merupakan alat tukar atau barter yang dibawa oleh pedagang-pedagang pendatang dengan penduduk asli saat membeli hasil bumi dan rempah-rempah di Indonesia. Sekitar abad ke-15 Masehi, pedagang muslim Arab dan India melakukan kontak dagang dengan mendatangi pulau Jawa dan Sumatera. Pengaruh Islam secara langsung dapat dilihat pada tekstil Indonesia. Beberapa batik yang dibuat di Jambi dan Palembang di Sumatera, serta di Utara Jawam dibuat dengan menggunakan ayat-ayat yang berasal dari bahasa Arab Al-Qur'an.
   Di Indonesia juga terdapat kain sarung kotak-kotak dan polos yang banyak digunakan di Semenanjung Arab, Timur Laut Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Pada abad ke-13 pedagang Gujarat memperkenalkan Patola, yaitu kain dengan teknik tenun ikat ganda dari benang sutera yang merupakan busana Gujarat, Barat Laut India. Proses pembuatan kain Patola sangat rumit sehingga di India kain ini digunakan dalam berbagai upacara yang berhubungan dengan kehidupan manusia, seperti kelahiran, perkawinan dan kematian juga sebagai penolak bala.
   Melalui perdagangan dengan bangsa Gujarat, keberadaan kain Patola tersebar luas di kepulauan Nusantara. Kain Patola umumnya hanya dimiliki oleh kalangan terbatas. Penduduk setempat yang telah memiliki keterampilan menenun pun mencoba mereproduksi kain yang sangat berharga tersebut dengan tenun ikat pakan. Di Maluku, kain ini sangat dihargai dan dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang atau leher. Para penenun di Nusa Tenggara Timur mengembangkan corak kain tenun yang dipengaruhi oleh corak yang terdapat pada kain Patola, dengan corak yang berbeda untuk raja, pejabat, dan kepala adat dalam jumlah yang sangat terbatas dan hanya dikenakan pada upacara-upacara adat. Kain Patola dari Lio NTT ini ada yang dibuat sepanjang 4 meter yang disebut katipa yang berfungsi sebagai penutup jenazah.
   Motif Patola juga dikembangkan menjadi kain Cinde di daerah Jawa Tengah. Kain Cinde tidak dibuat dengan teknik tenun ikat ganda, tetapi dibuat dengan teknik direct print, cap atau sablon. Kain ini digunakan sebagai celana dan kain panjang untuk upacara adat, ikat pinggang untuk pernikahan, serta kemben dan selendang untuk menari. Kain serupa terdapat pula di Palembang, disebut kain Sembagi. Sembagi yang berwarna terang digunakan pada upacara mandi pengantin dan hiasan dinding pada upacara adat. Kain Sembagi yang berwarna gelap digunakan untuk penutup jenazah.
   Motif Patola mempengaruhi motif batik Jlamprang yang berwarna cerah yang berkembang di Pekalongan, dan motif Nitik yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta yang berwarna sogan (kecoklatan), indigo (biru), kuning dan putih. Corak Patola juga berkembang di Pontianak, Gorontalo, dan kain tenun Bentenan di Manado.
    Kain dengan teknik tenun ikat ganda dibuat di Desa Tenganan Pengeringsingan di Bali. Kain sakral tersebut dikenal dengan nama kain Gringsing yang artinya bersinar. Teknik tenun ikat ganda hanya dibuat tiga daerah di dunia, yaitu di Desa Tenganan Bali, Indonesia (Kain Gringsing), di Kepulauan Okinawa, Jepang (tate-yoko gasuri) dan Gujarat India (kain Patola). Teknik tenun ikat ganda adalah tenun yang kedua arah benangnya, baik benang pada lungsing maupun pakan diwarnai dengan teknik rintang warna untuk membentuk motif tertentu.
    Kreativitas bangsa Indonesia mampu mengembangkan satu jenis kain tenun Patola Gujarat menjadi beragam tekstil yang sangat indah di seluruh daerah di Indonesia. Contoh perkembangan kain Patola ini hanya salah satu dari bukti kreativitas tinggi yang dimiliki oleh bangsa kita.
    Pada tekstil tradisional, selain untuk memenuhi kebutuhan sandang, juga memiliki makna simbolis dibalik fungsi utamanya. Beberapa kain tradisional Indonesia dibuat untuk memenuhi keinginan penggunanya untuk menunjukkan status sosial maupun kedudukannya dalam masyarakat melalui simbol-sombol bentuk ragam hias dan pemilihan warna. Selain itu ada pula kain tradisional Indonesia yang dikerjakan dengan melantunkan doa dan menghiasinya dengan penggalan kata maupun kalimat doa sebagai ragam hiasnya. Tujuannya, agar yang mengenakan kain tersebut diberi kesehatan, keselamatan, dan dilindungi dari marabahaya.
   Kain tradisional Indonesia dibuat dengan ketekunan kecermatan yang telliti dalam menyusun ragam hias, corak warna maupun maknanya. Akibatnya, kain Indonesia yang dihasilkan mengundang kekaguman dunia internasional karena kandungan nilai estetikanya yang tinggi.

Demikin Pembahasan mengenai Pengertian dan Jenis-Jenis Kerajinan Tekstil. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalin.

Labels:

Saturday, 8 July 2017

Empat Materi Ekonomi Makro

Pembahasan kali ini tentang Empat Materi Ekonomi Makro. Dalam buku Teori Makro Ekonomi Mankiw, dijelaskan tentang 4 materi utama yang paling penting dalam pembahasan ekonomi makro. Mengapa merupakan bagian terpenting akan dijelaskan berikut ini:

1. Dalam jangka panjang kapasitas negara untuk memproduksi barang dan jasa menentukan standar hidup penduduknya. Pada setiap pembahasan sebelumnya. inti dari pembahasan utamanya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi, karena peningkatan kapasitas produksi akan membuka peluang bagi perekonomian untuk semakin berkembang dan bertahan dalam kegoncangan krisis ekonomi, peningkatan kapasitas produksi menunjukkan bahwa indikator umum makro ekonomi seperti moneter, fiskal, pendapatan nsional dan distribusinya telah berjalan sesuai dengan tugasnya. Memang tidak ada suatu negara manapun didunia ini yang tergabung dalam ekonomi global mampu dengan baik menjalankan sistem indikator makro ekonominya karena selalu saja ada trade off dari setiap kebijakan. Sebagai misal, bila saja The FED (Bank Central US) ingin memperbaiki sistem moneter dinegaranya dalam bentuk kenaikan suku bunga yang bertujuan untuk menstabilkan perekonomiannya, justru akan menyebabkan banyak negara di dunia lainnya yang sangat bergantung pada pemodal US itu menjadi "kelabakan" karena setiap kenaikan suku bunga di US akan pengurangan modal masuk (capital inflow), sebaliknya setiap penurunan suku bunga akan menyebabkan melonjaknya harga saham yang akan menyebabkan lesunya perdagangan saham di negara lainnya. Padahal kebijakan itu bertujuan untuk kepentingan US sendiri. Contoh lain misalkan pemerintah Jepang dan Korea Selatan mendengungkan penggunaan hasil pertanian dalam negeri untuk meningkatkan kesejahteraan petaninya, ini menyebabkan produk pertanian dari US akan sangat sulit masuk dan jelas akan merugikan petani US. Mobil Jepang sangat laku di US, bila misalkan pemerintah US melarang masuk mobil Jepang karena membalas kebijakan membela petani, maka jelas Jepang akan mengalami kerugian yang sangat besar, padahal semua kebijakan masing-masing negara tadi dalam rangka memperbaiki dan melindungi masyarakatnya. Ini adalah sedikit contoh bahwa keberhasilan suatu negara mengatur indikator ekonomi makronya dengan baik dan benar relatif sangat sulit, sehingga itulah sebabnya adalah tidak mudah bagi suatu negara bisa menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah yang cukup dan memadai bagi penduduknya dalam waktu yang panjang dan selamanya karena adanya ketergantungan itu tadi. Banyak bukti negara-negara yang lepas (berani melepaskan diri atau menantang ) dari ketergantungan ekonomi global tidak bisa memperbaiki kualitas hidup penduduknya, misalkan Korea Utara, Irak dan Libya (sewaktu di isolir PBB), Myanmar (karena masalah HAM), Indonesia (masalah HAM dan Korupsi) dan lain sebagainya. Peningkatan kapasitas produksi barang dan jasa itu bukan hanya bergantung pada banyak atau sedikitnya sumber daya alam suatu negara, akan tetapi juga sangat bergantung pada kemampuan suatu negara mengolahnya, apakah sumber daya manusianya cukup dan memadai, apakah sistem moneter (perbankan dan keuangan) handal, sistem hukum dan HAM konsisten dan lain sebagainya. Perhatikanlah Idonesia ini. Lihat dan rasakanlah betapa rendahnya kualitas hidup penduduknya. Pelanggaran sistem hukum berlangsung di depan mata dan didepan penegak hukum hanya untuk memanfaatkan peluang mendapatkan "makan", sistem pendidikannya (murid, guru/pengajar, fasilitas, departemen) yang tidak menghargai kualitas hanya karena berupaya mendapatkan sebanyak-banyaknya orang yang mengenyam pendidikan tanpa memandang perlu kualitas pendidikannya, kebanyakan peminmpinnya korupsi dan berlangsung didepan mata dan menjadi berita rutin serta dipandang sebagai hal yang biasa, dan seterusnya dan seterusnya.

Itulah sebabnya sistem tata laksana ekonomi  makro yang baik dan benar sangat mutlak dijalankan. dan memang ini memerlukan waktu yang panjang dan kemauan yang keras untuk menjalankannya dan itu bisa dimulai dari mempelajari teorinya agar kita bisa menjadi lebih arif dan bijak dalam menilai. 
 
Empat Materi Ekonomi Makro
Ekonomi Makro

2. Dalam jangka pendek permintaan agregat mempengaruhi jumlah barang dan jasa yang diproduksi negara. Permintaan adalah motor penggerak langsung pada perekonomian, karena permintaanlah yang menunjukkan kemampuan ekonomi penduduk suatu negara. Tingginya permintaan menunjukkan kemampuan ekonomi penduduknya dan itu berlaku sebaliknya apapun alasannya. Kebijakan stabilisasi selain fiskal dan moneter seperti kebijakan upah dan harga serta kebijakan perdagangan luar negeri akan sangat membantu untuk meningkatkan permintaan melalui pertumbuhan ekonomi, meskipun dalam batas tertentu peningkatan permintaan ini harus tetap diwaspadai sebab dalam hitungan tertentu permintaan yang terlalu tinggi akan menyebabkan produksi jumlah barang dan jasa menjadi tidak terkendali dan akan sangat berbahaya bagi perekonomian karena perekonomian akan semakin "panas" dan mudah "terbakar" (dalam arti perekonomian yang permintaan penduduknya tinggi atas barang dan jasa menyebabkan pembukaan kapasitas produksi terlalu cepat dan terlalu banyak sehingga cenderung tidak terkendali, baik dari dalam negeri dalam bentuk "pemaksaan produksi" maupun dari luar negeri berupa impor yang juga tidak terkendali ", ujung-ujungnya penduduk bisa terlalu konsumtif. Perhatikan perekonomian China tahun 2004-2006 yang tumbuh di atas 8%/tahun, yang menyebabkan perekonomian China melaju kencang, akibatnya pertumbuhan permintaan semakin tinggi, termasuk permintaan atas produk-produk impor yang sangat mahal dan hampir tidak bermanfaat untuk sarana produksi seperti mobil super mewah, kapal pesiar mewah dan lain sebagainya dan untuk itu pemerintah China terpaksa "mengerem" laju pertumbuhan ekonominya sebab akan sangat berbahaya dalam jangka panjang bila tidak dikendalikan.

3. Dalam jangka panjang pertumbuhan jumlah uang akan mempengaruhi inflasi akan tetapi tidak berpengarug terhadap pengangguran. Teori umum yang sering dipelajari adalah adanya hubungan antara pertumbuhan jumlah uang (beredar) dengan tingkat inflasi, hal ini adalah benar karena harus diakui uang benar-benar menjadi indikator kegiatan ekonomi. Bila pertumbuhan uang tinggi maka tingkat harga umum atas barang dan jasa akan tinggi, sebaliknya bila rendah maka rendah pula harga , tinggi rendahnya harga secara umum ini dalam jangka panjang menunjukkan tingkat inflasi yang terjadi dalam perekonomian. Berkaitan dengan inflasi adalah masalah pengangguran. Secara teoritis dalam jangka pendek memang ada hubungan antara tingkat inflasi terhadap pengangguran yang bersifat trade off , artinya semakin tinggi inflasi maka pengangguran rendah, sebaliknya inflasi yang rendah akan menyebabkan tingkat pengangguran tinggi. Dengan teori yang sederhana hubungan antara inflasi dan pengangguran bisa dijelaskan, akan tetapi bagaimana menjelaskan hubungan antara inflasi dan pengangguran dalam jangka panjang memang tidak bisa disederhanakan karena, selain masalah inflasi ada masalah besar lainnya yang menjadi faktor tinggi rendahnya pengangguran yaitu masalah penawaran dan permintaan tenaga kerja (struktur pasar tenaga kerja), pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya.

4. Dalam jangka pendek, pembuat kebijakan fiskal dan moneter (pemerintah) menghadapi trade off  antara indlasi dan pengangguran. Adanya trade off antara lain inflasi dan pengangguran sejatinya didasarkan pada hasil penelitian Philips yang menemukan fakta dari data series yang menunjukkan adanya trade off itu. Bila misalkan pemerintah melaksanakan kebijakan moneter melalui salah satu instrumennya yaitu pengetatan jumlah uang beredar, maka dalam jangka pendek akan menyebabkan tingkat pengangguran tinggi, mengapa? Karena ketatnya jumlah uang beredar menyebabkan suku bunga tinggi, sehingga masyarakat cenderung uuntuk menabung, akibatnya permintaan menjadi rendah, rendahnya permintaan akan mendorong turunnya harga, harga yang turun akan menyebabkan produsen menurunkan produksi dan membatasi pembukaan kapasitas produksi (hal ini juga disebabkan oleh tingginya suku bunga menyebabkan rendahnya investasi), sehingga wajar saja banyak perusahaan akan melakukan rasionalisasi atau paling tidak menunda  penambahan karyawan. Jadi bila misalkan pemerintah ingin menurunkan pengangguran dalam jangka pendek salah satu caranya adalah meloggarkan kebijakan peredaran uang, melakukan kebijakan fiskal dengan penstabil otomatik dan menurunkan suku bunga agar investasi semakin tinggi.

Demikian tulisan yang berjudul Empat Materi Ekonomi Makro, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Friday, 30 June 2017

Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro

Pembahasan kali ini saya akan membahas tentang Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro. Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro yaitu Tingkat kesempatan kerja yang tinggi, kapasitas produksi nasional yang tinggi, tingkat pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, keadaan perekonomian yang stabil, neraca pembayaran luar negeri yang seimbang dan distribusi pendapatan yang merata. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro dibawah ini:

Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro 
Kebijakan ekonomi makro yang dilakukan oleh setiap negara secara bersama-sama dilakukan oleh setiap negara secara bersama-sama dilakukan oleh pemerintah dan swasta bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dan mungkin timbul dalam perekonomian, di mana pemerintah sebagai regulatornya dan swasta sebagai pelaksananya. Diharapkan dari perpaduan tersebut akan dapat tercapai keadaan perekonomian yang diidam-idamkan seperti:

Tingkat Kesempatan Kerja yang Tinggi
Pada dasarnya negara manapun didunia ini tidak menginginkan adanya pengangguran dalam perekonomian, karena selain berdampak buruk bagi sendi kehidupan sosial masyarakat juga  merupakan beban ekonomi negara yang harus ditanggung baik dari segi ekonomi maupun politik. Dalam kondisi idela tidak adanya pengangguran  memang sangat diharapkan akan tetapi pada kenyataannya tingkat pengangguran dari tahun ke tahun selaku ada dan banyak, dan situasinya memang tidak dapat dihilangkan.  Apa yang dapat dilakukan oleh negara adalah mengurangi tingkat pengangguran sampai pada tingkat yang moderat (full employment) yaitu di mana semua lapangan pekerjaan yang disedikan oleh negara (swasta dan pemerintah) terisi penuh oleh para pencari kerja (angkatan kerja).

Kapasitas Produksi Nasional yang Tinggi
Untuk negara-negara yang tergolong masih berkembang dan terbelakang perekonomiannya, usaha peningkatan kapasitas produksi memanglah merupakan suatu keharusan, yaitu dengan cara  melakukan investasi di segala bidang yang sesuai dengan peruntukan dan kebutuhan yang tepat. Tingginya rendahnya kapsitas produksi tergantung dari tinggi rendahnya investasi, sedangkan  investasi (dalam negeri) tergantung dari tingkat tabungan dalam negeri (suku bunga), tingkat tabungan (dalam negeri) tergantung dari tingkat bunga dan pendapatan masyarakat. Dengan demikian untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri maka peningkatan  pendapatan masyarakat perlu dilakukan dengan cara meningkatkan  produktivitas masyarakat dan mengembangkan teknologi (pemberdayaan sumber daya).

Tingkat Pendapatan Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi
Tidak ada suatu ukuran standar mengenai bagaimana tinggi pendapatan  suatu negara yang harus dicapai, akan tetapi berdasarkan perbandingan pada  negara lain tentu saja dapat diketahui apakah  pendapatan nasioal suatu negara lebih besar atau lebih kecil dari negara lainnya. Tentu saja  kondisi yang diharapkan adalah bila pendapatan nasionalnya lebih tinggi dari pendapatan nasional  negara lain. Membandingkan tingkat pendapatan nasional suatu negara dengan negara lain adalah ukuran relatif, sedangkan untuk mendapatkan gambaran absolut adalah dengan  adalah dengan membandingkan pendapatan perkapita suatu negara dengan negara lain. Tingkat pendapatan perkapita adalah perbandingan antara pendapatan nasional suatu negara lain. Tingkat pendapatan perkapita adalah perbandingan antara pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduknya. Misalkan  negara A tahun 1996 berpenduduk 1000 jiwa dengan pendapatan nasional sebesar USD 5 juta dan tahun 1997 sebesar USD 5,5 juta,  sedangkan Negara B berpenduduk 10.000 jiwa dengan pendapatan nasional sebesar USD 8 juta  tahun 1996 dan USD 8,7 juta pada tahun 1997. Secara relatif maka negara B memiliki pendapatan nasional  yang tinggi dibandingkan dengan negara A, akan tetapi bila dibandingkan antara pendapatan perkapitanya (pendapatan perkapita = Pendapatan nasional dibagi dengan jumlah penduduk ) yaitu negara A yang  yang sebesar USD 5 juta/1000 = USD 5000, sedangkan negara B pendapatan perkapitanya adalah sebesar USD 8juta/10000 = USD 800. Dari pendapatan perkapita ini dapatlah diketahui bahwa secara absolut  negara A memiliki pendapatan nasional yang tinggi dibandingkan dengan negara B. Tingginya tingkat pendapatan nasional (berdasarkan pendapatan perkapita) mencerminkan tingginya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan  dan ini berarti bahwa tingkat kemakmuran masyarakatnya pun relatif baik.

Akan halnya dengan tingkat pendapatan nasional yang tinggi, maka tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dikarenakan tingginya pendapatan  nasional secara relatif, melainkan seberapa  besar produktivitas penduduk negara tersebut mampu meningkatkan pendapatannya secara kumulatif. Dengan demikian bila saja pertumbuhan jumlah penduduk relatif tetap diiringi oleh naiknya tingkat pendapatan perkapita maka pertumbuhan ekonomi dikatakan tinggi dihitung berdasarkan angka pendapatan nasional dengan rumus:
Rumus Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Rumus Tingkat Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan rumus di atas maka dapat dihitung tingkat pertumbuhan ekonomi negara A sebagaimana ilustrasi di atas pada tahun 1997 sebagai berikut:
Rumus Tingkat Pertumbuhan Ekonomi


Berdasarkan hasil perhitungan tersebut di atas tampak bahwa meskipun negara B pertumbuhan pendapatan nasionalnya sebesar USD 0,7 juta pada tahun 1997 lebih besar dibandingkan dengan negara A yang hanya sebesar USD 0,5 juta pada tahun yang sama, akan tetapi ternyata pertumbuhan ekonomi negara A yang sebesar 10% pada tahun 1997 lebih besar dibandingkan dengan negara B yang hanya sebesar 8,75% pada tahun yang sama.

Satu hal yang perlu diperhatikan  mengenai pertumbuhan ekonomi adalah bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi tidak dapat berbeda besar pada akhir periode lima tahun dengan tingkat itu di awalnya kecuali di negara-negara yang baru pulih dari bencana (Lewis, 1994.h.188).

Keadaan Perekonomian yang Stabil 
Kestabilan yang diharapkan dalam perekonomian adalah kestabilan dalam hal tingkat pendapatan, kesempatan kerja dan terutama kestabilan pada tingkat harga-harga barang secara umum. Dalam pengertian yang lebih realistis perekonomian yang stabil bukanlah berarti suatu perekonomian yang kondisinya selalu megalami masa-masa booming terus menerus (tidak pernah terjadi penurunan atau peningkatan - kondisi ideal), akan tetapi suatu kondisi yang fluktuasi variabel ekonomi terutama harga-harga komoditi secara umum dan tingkat pendapatan bergerak/berubah dalam kondisi yang wajar. Untuk hal itu perhatikan gambar berikut:
Gambar Siklus Variabel Ekonomi
Gambar Siklus Variabel Ekonomi

Garis XY adalah kondisi pergerakan dari variabel ekonomi misalnya pendapatan nasional, tingkat harga-harga secara umum, pengangguran, dan lain sebagainya. Sedangkan garis AB adalah kondisi ideal bagi pergerakan variabel yang dimaksud. Garis putus-putus yang membatasi garis X sebelah atas dan Y sebelah bawah adalah garis batas peningkatan atau penurunan yang dapat ditolerir suatu perekonomian. Perekonomian yang melebihi batas tertinggi (biasanya diukur dengan rumus X + 2a dari GDP) dianggap membahayakan karena terlalu panas yang mana ditunjukkan oleh terlalu tingginya pendapatan nasional disertai tingginya tingkat harga-harga secara umum. Bila ini terjadi maka akan menyebabkan perekonomian biaya tinggi dan akan menggejalanya konsumtifisme dan demonstration effect yang mengarah pada kecemburuan sosial akibat tingginya tingkat pengangguran.

Bila perekonomian berada di bawah batas terendah garis XY (X - 2a), perekonomian akan berjalan dengan sangat lambat bahkan stagnan karena begitu rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan rendahnya tingkat harga sehingga mesin-mesin produksi tidak akan dioptimalkan karena keuntungan yang rendah dan skala investasi yang relatif tinggi. Pada kondisi ini tingkat pengangguran yang sebenarnya sudah rendah juga akan sia-sia karena tidak ada perusahaan yang mau membayar tenaganya secara layak. Hal ini selain disebabkan oleh rendahnya kapasitas produksi juga karena rendahnya tingkat keuntungan.

Pada umumnya kondisi sebagaimana yang tergambar pada garis AB sangat jarang terjadi, karena beberapa variabel tersebut terkadang saling berpengaruh tapi kadang juga saling asing (artinya penyebab perubahan satu variabel katakanlah pengangguran yang tinggi bukanlah disebabkan oleh rendahnya tingkat pendapatan nasional yang menyebabkan rendahnya tabungan masyarakat dan berujung pangkal pada rendahnya pembukaan kapasitas produksi baru, mungkin juga disebabkan oleh faktor lain misalnya tingkat pendidikan, kesenjangan informasi dan lain-lain). Yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan kondisi agar pergerakan variabel ekonomi tersebut tidak terlalu jauh dari kondisi ideal. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pergerakan beberapa variabel tersebut mengalami masa turun naik yang masih dalam batas-batas kemampuan ekonomi suatu negara, dengan demikian dapat dikatakan bahwa relatif perekonomian negara yang dimaksud stabil.

Neraca Pembayaran Luar Negeri yang Seimbang
Neraca  pembayaran (Balance of Payment) adalah ikhtisar sistematis dari semua transaksi ekonomi dengan luar negeri selama jangka waktu tertentu dinyatakan dalam uang (biasanya dalam satuan dolar Amerika Serikat). Dalam neraca pembayaran tersebut beberapa hal penting yang perlu diketahui adalah Neraca perdagangan, Transaksi berjalan dan lalu lintas moneter. Sebagai gambaran berikut disajikan Neraca Pembayaran Indonesia seperti di bawah ini:

Neraca Pembayaran Indonesia
Perhatikan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada tahun tersebut mengalami surplus yang berarti nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor barang. Itu artinya kita mendapatkan devisa sebesar nilai surplus tersebut. Selanjutnya transaksi berjalan yang merupakan pengurangan dari neraca perdagangan dengan impor jasa ditambah dengan ekspor jasa bernilai positif berarti mengalami surplus, artinya nilai bersih ekspor barang dan jasa lebih besar dibandingkan dengan nilai impor barang dan jasa pada tahun tersebut. Pada point E Lalu Lintas Moneter (LLM) pada tahun 2001 bernilai positif (yang berarti pada tahun itu terdapat cash inflow untuk menutupi selisih dari yang belum diperhitungkan. Bila selisih yang belum diperhitungkan positif itu artinya terdapat kelebihan cash hak Indonesia yang belum diperhitungkan mungkin saja karena selisih kurs, salah atau kekeliruan menghitung dan karena lain sebab, dan oleh karena selisih antara transaksi modal dengan transaksi berjalan mengalami defisit maka untuk menyeimbangkan anggaran Indonesia memerlukan dana cash dari luar. Sebaliknya misalkan selisih A dan B bernilai positif dan poin D negatif, maka pastilah LLM bernilai negatif yang pengertiannya sama dengan di atas), sedangkan pada tahun berikutnya bernilai negatif artinya cash outflow.

Dengan demikian secara umum neraca pembayaran luar negeri Indonesia pada tahun 2001-2003 mengalami surplus.

Dari segi tinjauan ekonomi murni neraca pembayaran yang surplus dan defisit umumnya tidak diinginkan oleh pemerintah suatu negara (neraca pembayaran surplus menyebabkan penawaran devisa lebih bayak di dalam negeri yang relatif akan menyebabkan nilai tukar mata uang lokal di dalam negeri menjadi lebih mahal, sehingga nilai impor akan semakin murah dan ini akan berdampak pada matinya industri asli di dalam negeri, dan dalam jangka menengah justru akan menguras devisa kembali. Sedangkan bila neraca pembayaran defisit berarti jumlah penawaran devisa di dalam negeri semakin sedikit, dan ini akan berdampak pada semakin turunnya nilai mata uang lokal terhadap devisa tersebut sehingga nilai impor akan semakin mahal. Bila ini terjadi maka industri di dalam negeri yang berbasiskan impor - bahan baku utama masih diimpor, akan mengalami kesulitan dan akibatnya adalah harga komoditi impor tersebut dijual dengan harga yang lebih mahal dan dapat ditebak yang akan terjadi adalah tingkat inflasi meningkat atau industri tersebut akan mati, akan tetapi dari segi politik neraca pembayaran yang surplus lebih diinginkan karena lebih mencerminkan ketekatan suatu bangsa untuk lebih maju dari pembangunan sebelumnya, dan juga memberikan gambaran betapa negara tersebut lebih baik mengelola perekonomiannya.

Distribusi Pendapatan yang Merata
Keadilan pembagian rezeki dari hasil mengelola sumber daya baik alam maupun manusia dari suatu negara adalah di mana pendapatan yang diperoleh dapat dinikmati secara merata oleh rakyatnya, dalam arti distribusi pembagian pendapatan yang relatif adil. Artinya sebagian besar pendapatan negara dinikmati oleh sebagian besar golongan masyarakat dalam perekonomian tersebut. Dengan meratanya pembagian pendapatan diharapkan tingkat konsumsi masyarakat juga relatif lebih baik. Dan pada muaranya diharapkan akan terjadi kehidupan yang tidak bertendensi pada keresahan dan kerusuhan sosial.

Beberapa cara untuk menghitung dan menentukan mengenai tingkat distribusi pendapatan dalam masyarakat suatu negara telah banyak dikembangkan dan dikemukakan oleh para pakar ekonomi makro khususnya cabang ilmu ekonomi makro yaitu ekonomi pembangunan dan perencanaan. Akan tetapi beberapa diantaranya yang paling sering dipergunakan adalah Indeks Gini atau Gini Koefisien atau Gini Ratio yang merupakan kesimpulan matematis dari studi empiris Lorenz yang terkenal dengan Kurve Lorenz sehubungan dengan distribusi pendapatan tersebut. Gini Ratio digunakan untuk mengukur distribusi pendapatan masyarakat secara umum/global, sedangkan untuk mengukur distribusi pendapatan masyarakat antar daerah digunakan rumus Indeks Williamson.

Demikian pembahasan tentang Tujuan Pembangunan Ekonomi Makro. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.

 

Labels:

Sunday, 4 June 2017

Masalah Ekonomi Makro

     Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas tentang Masalah-Masalah Ekonomi Makro. Masalah ekonomi makro terdiri atas inflasi, pengangguran, neraca pembayaran yang timpang, pertumbuhan penduduk yang tinggi dan kapasitas produksi yang rendah.

    Ilmu Ekonomi Makro merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mengkhususkan mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian secara keseluruhan. Tujuan ilmu ekonomi makro adalah untuk memahami peristiwa/fenomena ekonomi dan untuk memperbaiki kebijakan ekonomi. Dari sini diperoleh gambaran bahwa ilmu ekonomi makro bukanlah alat/doktrin perekonomian akan tetapi metode yang berguna untuk membantu mengembangkan pemikiran tentang bagaimana cara bekerja dan memperbaiki kondisi perekonomian.
    Secara umum permasalahan dalam ekonomi makro dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Masalah jangka pendek atau kadang disebut juga masalah stabilisasi. Masalah ini berhubungan dengan bagaimana men"drive" perekonomian dari suatu periode ke periode berikutnya dalam jangka pendek (bulan, tahun) agar dapat terhindar dari masalah ekonomi makro yaitu: a. inflasi yang besar dan berkepanjangan, b. Tingkat pengangguran terbuka yang besar, dan c. Ketimpangan dalam neraca pembayaran.
2. Masalah jangka panjang atau kadang disebut juga sebagai masalah pertumbuhan. Masalah ini berhubungan dengan bagaimana men''drive'' perekonomian agar tetap berada dalam kondisi keserasian antara pertumbuhan jumlah penduduk, pertambahan kapasitas produksi dan tersedianya dana untuk investasi (dengan program penggalakan tabungan masyarakat).

Masalah-Masalah Ekonomi Makro
Masalah Ekonomi Makro

Inflasi (Inflation)
Inflasi adalah naiknya harga-harga komoditi secara umum disebabkan oleh tidak sinkronnya antara program sistem pengadaan komoditi (produksi, penentuan harga, pencetakan uang dan lain sebagainya) dengan tingkat pendapatan yang dimiliki oleh mesyarakat. Sebenarnya inflasi bukan masalah yang terlalu berarti apabila keadaan tersebut diiringi oleh tersedianya komoditi yang diperlukan secara cukup dan ditimpali dengan naiknya tingkat pendapatan yang lebih besar dari % tingkat inflasi tersebut (daya beli masyarakat lebih besar dari tingkat inflasi). Akan tetapi manakala biaya produksi untuk menghasilkan komoditi semakin tinggi yang menyebabkan harga jualnya juga menjadi relatif tinggi sementara disisi lain tingkat pendapatan masyarakat relatif tetap maka barulah inflasi ini menjadi sesuatu yang membahayakan apalagi bila berlangsung dalam waktu yang relatif lama dengan porsi berbanding terbalik antara tingkat inflasi terhadap tingkat pendapatan (daya beli).

Pengangguran (Unemployment)
Pengangguran sejatinya terjadi karena adanya kesenjangan antara penyediaan lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja yang mencari pekerjaan. Selain itu pengangguran bisa juga terjadi meskipun jumlah kesempatan kerja tinggi akan tetapi terbatasnya informasi, perbedaan dasar keahlian yang tersedia dari yang dibutuhkan atau bahkan dengan sengaja memilih untuk menganggur (pengangguran sukarela). Oleh karena pengangguran selalu saja ada dalam suatu perekonomian, maka sebenarnya pengangguran itu bukanlah masalah yang berat dan membahayakan, karena sesuatu yang selalu ada dan bahkan harus selalu ada termasuk hal yang menguntungkan bila bisa dikelola dengan baik dalam  kondisi yang juga baik.

Dalam analisa ilmu ekonomi makro, kondisi yang diharapkan bukanlah bagaimana  mempekerjakan semua tenaga kerja yang mencari pekerjaan dengan menyediakan lapangan kerja  bagi mereka secara sporadis, karena akan membahayakan kondisi perekonomian bila ditinjau dari sisi lainnya , akan tetapi bagaimana caranya agar setiap lowongan kerja yang disediakan pada suatu periode oleh para pencari kerja inilah yang disebut dalam ilmu ekonomi sebagai 'Full Employment". Ingatlah bahwa kondisi full employment bukanlah kondisi yang sama sekali tidak ada pengangguran. 

Neraca Pembayaran yang Timpang
Neraca pembayaran atau Balance of Payment (BOP) adalah catatan  tentang transaksi ekonomi internasional suatu negara terhadap negara lainnya dalam kurun waktu tertentu (umumnya dalam  dala periode 1 tahun). Dalam BOP ini akan terlihat kemampuan/produktivitas penduduk suatu negara  terhadap penduduk negara lainnya yang tercermin dari defisit atau surplusnya suatu perdagangan  dan keluar masuk modal. Sepintas akan sangat menguntungkan bila BOP suatu negara mengalami  surplus, dan sangat merugikan bila defisit, akan tetapi tidak demikian kenyataan dalam politik ekonominya.
Neraca pembayaran yang timpang maksudnya adalah adanya kesenjangan antara jumlah perolehan dari ekspor dengan pembayaran untuk impor. Bila impor terlalu besar maka devisa akan semakin semakin berkurang, nilai tukar mata uang lokal relatif akan jatuh, industri dalam negeri berbasis impor akan banyak yang mati dan lain sebagainya. Sedangkan bila ekspor terlalu besar maka nilai mata uang lokal akan menguat terhadap mata uang luar negeri (valas) dan akan berdampak pada semakin naiknya impor yang akan menyebabkan matinya industri yang berbasiskan bahan baku dalam negeri (bahan baku asli negeri sendiri). Itulah sebabnya neraca pembayaran luar negeri haruslah seimbang (diusakahan seimbang).

Pertumbuhan penduduk yang tinggi
Untuk masalah jangka panjang seperti tingkat pertumbuhan penduduk memang menjadi semacam dilema bila dibandingkan denga program pemerintah lainnya yaitu pertumbuhan ekonomi yang  tinggi, peningkatan kesehatan dan harapan hidup masyarakat serta program-program lainnya. Dahulu Malthus pernah meramalkan bahwa pada  masanya suatu negara (dunia) akan menghadapi masalah yang sangat pelik yaitu bagaimana menghidupi dan mencukup kebutuhan penduduk  dengan jumlah pangan terbatas. Malthus beranggapan bahwa karena jumlah tanah tidak  bertambah dan bahwa pertambahan jumlah penduduk mengikuti deret ukur sementara pertambahan pangan mengikuti deret hitung maka bencanalah yang akan dialami. Akan tetapi meskipun pada kenyataannya ramalan Malthus itu hingga saat ini belum sepenuhnya terbukti karena perkembangan teknologi yang memungkinkan pangan dapat dihasilkan dengan jumlah berlipat ganda untuk memenuhi kebutuhan penduduk, akan tetapi tanda-tanda kekurangan pangan  semakin nyata diberbagai belahan dunia (khususnya Afrika) karena jumlah penduduk yang banyak sementara jumlah pangan terbatas. Oleh karena  itu, pembatasan pertumbuhan penduduk menjadi  program dunia (jadi bukan masalah satu atau masing-masing negara saja).
Secara teori pertumbuhan penduduk  yang besar bila diikuti oleh tingkat produktivitas yang tinggi akan menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi. Tingginya pertumbuhan ekonomi akan  mampu meningkatkan kesejahteraan dan tingkat pendidikan dan pada akhirnya akan mampu  memperbaiki mutu dan citra hidup. Akan tetapi masalahnya bukanlah disitu, melainkan ternyata  media berupa tanah (bumi) ini tidaklah bertambah dan bila dieksploitasi berjalan terus menerus tanpa memperhatikan daya dukung dan daya tahannya maka akan secara cepat pula kemampuannya menurun dan bila ini diteruskan akan akan berdampak pada kemiskinan/bencana  evolutif. Untuk menghindari agar kejadian ini tidak cepat terjadimaka setiap pemerintah suatu negara menjalankan program kependudukan untuk mengatur jumlah kelahiran agar daya dukung ekonomi dapat seirama dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Peningkatan Kapasitas Produksi (kapasitas produksi yang rendah)
Peningkatan kapasitas produksi berhubungan dengan tingkat investasi dan investasi berhubungan dengan tingkat tabungan masyarakat, sedangkan tingkat tabungan masyarakat berhubungan  dengan tingkat pendapatan dan konsumsinya. Jadi bila kapasitas produksi ingin ditingkatkan  maka tabungan haruslah juga ditingkatkan agar investasi dapat pula ditingkatkan. Masalah yang timbul adalah bagaimnakah menyerap kelebihan  kapasitas produksi tersebut bila tabungan masyarakat tinggi yang berarti tingkat konsumsinya relatif rendah. Inilah yang disebut  dengan Paradoks Hemat itu. Di satu sisi daya konsumsi masyarkat akan mendorong investor  untuk segera membuka kapasitas produksi baru  9membangun pabrik, membeli mesin-mesin0, dan pembukaan kapasitas produksi ini akan membuka dan menyerap lapangan kerja. Di sisi lain masyarakat diharapkan berhemat dengan cara  memperbesar tabungan dan tabungan itu akan dipergunakan untuk investasi. 
         Itulah sebabnya mengapa pencarian dan pembukaan  pasar baru diluar negeri untuk menyerap kelebihan produksi di dalam negeri  perlu dilakukan. Dan untuk mengisi kekurangan  dana tabungan yang akan dipergunakan untuk investasi di dalam negeri maka pemerintah selalu berusaha menarik para investor dari luar negeri agar mau menanamkan modalnya di dalam negeri tersebut.

Demikian tulisan yang berjudul Masalah-Masalah Ekonomi Makro, semoga memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Labels:

Tuesday, 18 April 2017

Daftar Pustaka Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                 DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka
Strategi Bauran Pemasaran
 
Assauri, S. 1996. Manajemen Pemasaran Dasar Konsep dan Strategi. Jakarta : Rajawali Press.

Basu Swastha dan Irawan. 2000. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.

Basu Swastha HD. 2002. Manajemen Pemasaran Analisa Perilaku Konsumen, Edisi 1 Cetakan kedua. Yogyakarta: Liberty.

Downey & Erickson. 2002. Manajemen Agribisnis. Edisi Ketiga. Terjemahan Ganda S. dan Alfonsus Sirait. Jakarta: Erlangga.

Keegan, WJ. 1997. Manajemen Pemasaran Global Jilid I. Terjemahan Alexander Sindoro. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran (Analisis Perencanaan Implementasi dan Pengendalian). Terjemahan oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli. Jakarta: Erlangga.

Kotler, P., dan Amstrong. 1999. Dasar-Dasar Pemasaran Jilid 2. Terjemahan Alexander Sindoro. Jakarta: Perrihalindo.

Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Control, Terjemahan Edisi kedelapan, jilid 1. Jakarta: Prenhalindo.

Mc. Carthy, Jerone, E dan William D. Perreault, Jr. 1995. Dasar-Dasar Pemasaran, Edisi Kelima, Alih Bahasa: Agus Dharma. Jakarta: Erlangga.

Poerwadarminta,WJS. 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Stanton, WJ. 1996. Prinsip Pemasaran. terjemahan oleh Agus Budiyanto. Jakarta: Erlangga.

Swastha, B, dan Irawan. 1993. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: BPFC YKPN.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Tjiptono, Fandy. 1995. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi Ofset.

Winardi. 2001. Marketing dan Perilaku Konsumen. Bandung: CV Mendar Mas.





Labels:

Kesimpulan dan Saran pada Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                            BAB V
                                                        KESIMPULAN DAN SARAN

 
A.    Kesimpulan
     Berdasarkan hasil penelitian pengaruh strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Strategi produk tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena produk yang dijual kurang bervariasi.
2.    Strategi harga tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena tidak menerapkan diskon dalam penjualan produknya.
3.    Strategi distribusi tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena hanya membuka satu cabang usaha saja.
4.    Strategi promosi tidak berpengaruh secara signifikan dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, karena kurangnya promosi yang dilakukan.


Marketing Mix
Marketing Mix

B.    Saran
      Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1.    Warung Bakso Barokah diharapkan dapat menerapkan strategi bauran pemasaran yang baik yaitu dengan menambah variasi produk, menerapkan diskon dalam penjualan produknya, menambah cabang usahanya, dan meningkatkan promosi dalam penjualan produknya. Sehingga jika ini dilakukan dapat meningkatkan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
2.    Sebaiknya Warung Bakso dapat menambah jumlah karyawannya, agar dapat meningkatkan jumlah produksi dan dapat meningkatkan volume penjualan.

Labels:

Pembahasan Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

                                                                             BAB IV
                                               HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 
A. Penyajian Hasil Penelitian
1.    Hasil Penelitian
a.    Strategi Produk
Dalam merancang produk yang dihasilkan, terdapat beberapa tahapan yang selalu diperhatikan sehingga produk dapat diterima konsumen, yaitu:
1)    Perencanaan produk meliputi:
Sebelum membuat suatu produk perlu dilakukan suatu perencanaan produk. Hal ini mempengaruhi berhasil atau tidaknya dalam menghasilkan produk yang berkualitas. Hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya :
a)    Pengadaan bahan baku 
Tabel 2. Pengadaan bahan baku pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

Pengadaan Bahan Baku pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Pengadaan Bahan Baku
b)    Jenis Produk
Produk yang dihasilkan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar berupa bakso, mie kuah, dan mie goreng.
2)    Pengembangan Produk
a)    Desain produk
Desain produk yang digunakan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah bakso yang dijual memiliki bentuk bulat, ada bentuk bulat kecil yang berisi daging dan bentuk bulat besar yang berisi telur ayam. Dalam setiap mangkuknya terdapat enam biji bakso beserta mie dan bihun.
b)    Mutu produk
Produk yang dijual oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah memiliki cita rasa yang enak. Produk bakso ini memiliki tekstur yang kenyal dan berwarna keabu-abuan. Ciri-ciri bakso yang baik adalah elastis, kenyal, sedap dan warna keabu-abuan. Berdasarkan ciri-ciri bakso tersebut, maka produk bakso yang dijual oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu memiliki ciri-ciri bakso yang baik karena bakso yang dijual adalah elastis, kenyal, enak, dan berwarna keabu-abuan.
Tabel 3. Perubahan produk pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar Tahun 2011-2015.

Perubahan Produk pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Perubahan Produk pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
         Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa pada tahun 2011, jenis produk yang dijual hanya ada satu produk berupa bakso, sedangkan pada tahun 2012, jenis produknya tidak bertambah yaitu hanya satu produk berupa bakso, selanjutnya pada tahun 2013, jenis produknya bertambah menjadi dua jenis produk yaitu bakso dan mie kuah, sedangkan pada tahun 2014 dan 2015 jenis produknya bertambah menjadi tiga jenis produk yaitu bakso, mie kuah, dan mie goreng.
      Pada Warung Bakso Barokah belum menerapkan strategi produk dalam usahanya. Dimana produk yang dijual oleh Warung Bakso Barokah kurang bervariasi, yaitu hanya terdiri atas 3 jenis produk saja. Hal ini dapat mengurangi volume penjualan. Salah satu cara dalam meningkatkan volume penjualan adalah dengan menerapkan diversifikasi produk, yaitu dengan menambah variasi produk. Sehingga jika Warung Bakso Barokah menambah variasi produknya dapat meningkatkan volume penjualannya.

b.    Strategi Harga
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu sebagai berikut :
1)    Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar meliputi:
a)    Kondisi perekonomian
Kondisi perekonomian sangat mempengaruhi tingkat harga yang berlaku yaitu adanya kenaikan bahan baku seperti harga daging sapi dan daging ayam yang semakin mahal serta bahan-bahan lainnya, sehingga apabila harga bahan baku naik maka harga produk juga akan mengalami kenaikan. Seperti yang dilihat pada Warung Bakso Barokah yang menaikkan harga baksonya dari harga Rp4.000,00 menjadi Rp5.000,00.
b)    Permintaan dan penawaran
Warung Bakso Barokah di Kota Makassar melakukan penawaran yang kecil pada tingkat harga produk lebih murah dibandingkan dengan harga produk bakso lainnya. Dengan harga murah ini dapat mengakibatkan permintaan yang lebih besar. Harga bakso yang ditetapkan oleh Warung Bakso Barokah yaitu Rp5.000,00.
c)    Persaingan
Banyaknya usaha sejenis yang menawarkan kelebihan-kelebihan pada produknya menuntut Warung Bakso Barokah di Kota Makassar menetapkan harga yang selaras dengan kelebihan yang ditonjolkan pada produk. Namun selain harrga yang ditetapkan oleh pesaing perusahaan juga telah menyesuaikan segmen yang sesuai dengan harga yang telah ditetapkannya.
d)    Biaya
Kenaikan harga bahan baku dalam pembuatan bakso disertai dengan biaya operasional pabrik turut memberikan dampak penyesuaian harga dari perusahaan. Perubahan naik dan turun biaya-biaya yang mengiringi kegiatan usaha, akan mempengaruhi penetapan harga produk.
2)    Strategi harga yang diterapkan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
       Warung Bakso Barokah di Kota Makassar belum menerapkan strategi harga dalam menjual produknya. Dimana dalam pembelian produknya, tidak menerapkan potongan harga atau diskon pada produk yang dibeli konsumen. Dalam menarik jumlah pembeli, diperlukan strategi harga berupa potongan harga atau diskon. Sehingga jika Warung Bakso Barokah menerapkan diskon pada pembelian produknya, dapat menambah jumlah pembeli. Bertambahnya jumlah pembeli dapat meningkatkan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.


c.    Strategi Distribusi

             Warung Bakso Barokah di Kota Makassar belum menerapkan strategi distribusi yang baik karena usahanya hanya memiliki satu cabang usaha saja, sehingga tidak dapat menjangkau banyak pembeli karena hanya memiliki satu cabang usaha saja. Hal ini dapat mengurangi jumlah pembeli yang pada akhirnya mengurangi volume penjualannya.
          Warung Bakso Barokah di Kota Makassar memiliki tempat yang kurang strategis, karena berada di daerah lorong. Selain itu, tempat usaha pada Warung Bakso Barokah ini, memiliki tempat usaha yang sempit, kurangnya fasilitas yang disediakan seperti kurangnya kursi dan meja, kurang dilengkapi dengan kipas angin atau AC, serta tidak dilengkapi dengan lahan parkir, sehingga mengurang jumlah penjualan karena tempat yang disediakan tidak memadai.
        Pada Warung Bakso Barokah ini tidak menggunakan biaya distribusi karena proses saluran pendistribusiannya dilakukan secara langsung, sehingga tidak mengeluarkan biaya distrbusi dalam proses penyaluran produknya.
Tabel 4. Data tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar tahun 2011-2015

Data Tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Data Tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
       Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa pada tahun 2011, tempat penjualan pada Warung Bakso Barokah hanya menggunakan gerobak dorong, dalam menjual produknya. Sedangkan pada tahun 2012, tempat penjualannya masih menggunakan gerobak, selanjutnya pada tahun 2013-2015, Warung Bakso Barokah sudah memiliki tempat usaha dalam menjual produknya, tanpa harus berjalan dengan menggunakan gerobak dorong.
       Perubahan yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar dari yang awalnya hanya menggunakan gerobak dorong berubah menjadi tempat usaha tetap. Hal ini dilakukan karena Warung Bakso Barokah ingin mengembangkan usahanya sehingga mendirikan tempat usaha menetap.


d.    Strategi Promosi

      Promosi merupakan kegiatan yang disusun perusahaan untuk memperkenalkan produknya dan menarik perhatian mitra kerja agar tertarik membeli. Penggunaan media promosi juga harus disesuaikan dengan perantara pasar dan kondisi perusahaan sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan promosi menjadi efektif dan efisien.
     Adapun kegiatan promosi Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah sebagai berikut :
1)    Menggunakan Papan Nama. Pada Warung Bakso Barokah menggunakan papan nama di depan tempat usahanya, sehingga orang-orang bisa mengetahui bahwa tempat tersebut menjual bakso.
2)    Promosi dari mulut ke mulut. Pada Warung Bakso Barokah dikenal hanya melalui promosi dari mulut ke mulut oleh pembeli yang telah membeli produknya. Pembeli tersebut menceritakan kepada orang lain sehingga Warung Bakso Barokah ini dapat meningkatkan hasil penjualannya
      Adapun promosi yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu sebagai berikut :
Tabel 5. Data promosi pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar tahun 2011-2015

Data Promosi pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Data Promosi pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
      Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa promosi yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, pada tahun 2011-2012 menggunakan gerobak keliling, sedangkan pada tahun 2013,      Warung Bakso Barokah sudah memiliki tempat usaha dan memasang papan nama di bagian depan tempat usahanya, selanjutnya pada tahun 2014-2015 melakukan penerimaan pemesanan bagi konsumen yang ingin memesan bakso yang banyak. 

e.    Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

      Kegiatan bisnis pasar merupakan perantara yang bagus untuk mempromosikan produk-produk yang akan dijual. Produk-produk baru yang dihasilkan harus menitikberatkan pada kebutuhan dan keinginan pasar. Hal ini merubah orientasi perusahaan yaitu bukan lagi hanya pada volume penjualan saja, tetapi juga menekan pada kepuasan konsumen, sehingga konsumen akan mengkonsumsi secara berkelanjutan.       Demikian pula dengan Warung Bakso Barokah yang bergerak di bidang industri pembuatan dan penjualan produk bakso. Dengan melaksanakan strategi bauran pemasaran yang terdiri dari empat indikator (produk, harga, promosi, dan distribusi) tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.
Tabel 6. Perkembangan Volume Penjualan yang diperoleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar tahun 2011-2015

Perkembangan Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Perkembangan Volume Penjualan
      Dengan demikian untuk mengetahui dampak sejauh mana pengaruh strategi bauran pemasaran terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar dapat diketahui dengan membandingkan volume penjualan selama 5 tahun terakhir, yaitu penjualan tahun 2011-2015.
      Pada tahun 2011, volume penjualan bakso pada Warung Bakso Barokah mencapai 144.000 unit. Sedangkan pada tahun 2012, volume penjualan mengalami penurunan menjadi 135.000 unit. Selanjutnya pada tahun 2013, volume penjualan mengalami penurunan drastis menjadi 79.200 unit. Sedangkan pada tahun 2014, volume penjualan mengalami peningkatan menjadi 108.000, dan pada tahun 2015, volume penjualan mengalami peningkatan menjadi 129.600 unit.
      Perubahan volume penjualan yang berfluktuasi disebabkan karena Warung Bakso Barokah menjual produk yang kurang bervariasi, yaitu hanya 3 jenis produk saja. Selain itu, dalam penjualan produknya, belum menerapkan potongan harga atau diskon dalam penjualan produknya dan cabang usaha pada Warung Bakso Barokah hanya memiliki satu cabang usaha saja serta promosi hanya dilakukan dengan memasang papan nama di depan tempat usahanya. Hal ini menunjukkan bahwa Warung Bakso Barokah belum menerapkan strategi bauran pemasaran pada usahanya. Sehingga dapat mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.


2.    Analisis Data
a.    Pengaruh Produk terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linier
Tabel 7. Hasil Analisis Data Regresi Linier

Hasil Analisis Data Regresi Linear
Hasil Analisis Data Regresi Linear
        Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 5.000 dan nilai b sebesar -1.000, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                      Y = 5.000 – 1.000X
       Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 5.000 – 1.000X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 5.000. Hal ini berarti bahwa jika produk tetap atau tidak mengalami perubahan maka produk sebesar nilai konstanta yaitu 5.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien produk sebesar -1.000X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa produk mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan produk satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 1000 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 8. Hasil Analisis koefisien korelasi

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Koefisien Korelasi
       Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan produk (XI) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,632 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,60-0,799, yang berarti bahwa besarnya korelasi antara produk yang bervariasi terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,400 atau 40,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh produk terhadap volume penjualan adalah 40,0 persen.
3)    Uji T
Tabel 9. Hasil Analisis Uji T

Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Uji T
           Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,252 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara produk dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga produk berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara tidak signifikan antara produk dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah karena produk yang dijual kurang bervariasi, sehingga mengurangi volume penjualan.

b.    Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linier
Tabel 10. Hasil Analisis Data Regresi Linier 


Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
Hasil Analisi Data Regresi Linear
        Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 7.000 dan nilai b sebesar -2.500, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                                         Y = 7.000 – 2.500X
           Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 7.000 – 2.500X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 7.000. Hal ini berarti bahwa jika harga tetap atau tidak mengalami perubahan maka harga sebesar nilai konstanta yaitu 7.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien harga sebesar -2.500X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa harga mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan harga satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 2500 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 11. Hasil Analisis Koefisien Korelasi

Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisi Koefisien Korelasi
       Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan harga (X2) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,866 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,80-1,000 yang berarti bahwa besarnya korelasi antara harga terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah sangat kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,750 atau 75,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh harga terhadap volume penjualan adalah 75,0 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harga memiliki korelasi yang sangat kuat dalam mempengaruhi volume penjualan.
3)    Uji T
Tabel 12. Hasil Analisis Uji T

Pengaruh Harga terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Uji T
         Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,058 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara harga dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga harga berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara harga dengan volume penjualan tidak signifikan karena disebabkan karena tidak menerapkan strategi harga dalam menjual produk, dimana tidak menerapkan potongan harga atau diskon dalam menjual produknya. Sehingga dapat mengurangi volume penjualannya.


c.    Pengaruh Tempat terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linier
Tabel 13. Hasil Analisis Data Regresi Linier 

Pengaruh Tempat terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Data Regresi linear
          Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 7.000 dan nilai b sebesar -2.500, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                                   Y = 7.000 – 2.500X
        Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 7.000 – 2.500X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 7.000. Hal ini berarti bahwa jika tempat tetap atau tidak mengalami perubahan maka tempat sebesar nilai konstanta yaitu 7.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien tempat sebesar -2.500X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa tempat mempunyai pengaruh yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap penambahan tempat satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 2500 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap.
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 14. Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi

Pengaruh tempat terhadap volume penjualan
Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi
        Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan distribusi (X3) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,866 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,80-1,000 yang berarti bahwa besarnya korelasi antara tempat terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah sangat kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,750 atau 75,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh tempat terhadap volume penjualan adalah 75,0 persen. Hal ini menunjukkan bahwa antara tempat dengan volume penjualan memiliki korelasi yang sangat kuat yaitu sebesar 75,0 persen.
3)    Uji T
Tabel 15. Hasil Analisis Uji T

Pengaruh tempat terhadap Volume Penjualan
Hasil Analisis Uji T
        Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,058 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara distribusi dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga tempat berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara tempat dengan volume penjualan tidak signifikan karena Warung Bakso Barokah di Kota Makassar hanya memiliki satu cabang usaha saja, sehingga mengurangi volume penjualannya. Selain itu, lokasi tempat pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar kurang strategis karena berada di daerah lorong, sehingga mengurangi volume penjualan, tempat yang disediakan kurang memadai, dimana fasilitas yang disediakan masih minim atau kurang memadai, seperti kurangnya kursi dan meja, tidak adanya tempat parkiran dan memiliki ruangan yang sempit.
d.    Pengaruh Promosi terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
1)    Analisis regresi linear
Tabel 16. Hasil Analisis Data Regresi Linier 

Hasil Analisis Data Regresi Linear
Hasil Analisis Data Regresi Linear
     Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat dibuat persamaan regresi linear sederhana dimana nilai a yang diperoleh sebesar 5.000 dan nilai b sebesar -1.000, sehingga bila dimasukkan ke dalam persamaan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
                                                                          Y = 5.000 – 1.000X
      Berdasarkan hasil pengelolaan komputer diperoleh hasil persamaan regresi linear sederhana yakni Y = 5.000 – 1.000X. Hal ini berarti bahwa nilai konstanta sebesar 5.000. Hal ini berarti bahwa jika promosi tetap atau tidak mengalami perubahan maka promosi sebesar nilai konstanta yaitu 5.000 (dalam ribu). Sedangkan nilai koefisien produk sebesar -1.000X dan bertanda negatif, ini menunjukkan bahwa promosi mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan variabel volume penjualan. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan promosi satu satuan maka variabel volume penjualan akan turun sebesar 1000 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi adalah tetap
2)    Analisis koefisien korelasi
Tabel 17. Hasil Analisis Data koefisien korelasi

Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi
Hasil Analisis Data Koefisien Korelasi

       Analisis selanjutnya yaitu analisis korelasi product moment untuk mengetahui besarnya korelasi atau hubungan promosi (XI) terhadap Volume penjualan (Y). Dari hasil analisis, maka korelasi (r) sebesar 0,632 dimana berdasarkan pada pedoman interpretasi nilai koefisien korelasi berada pada interval 0,60-0,799, yang berarti bahwa besarnya korelasi antara promosi yang bervariasi terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar adalah kuat. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,400 atau 40,0 persen. Yang berarti bahwa pengaruh promosi terhadap volume penjualan adalah 40,0 persen.
3)    Uji T
Tabel 18. Hasil Analisis Uji T

Hasil Analisis Uji T
Hasil Analisis Uji T
          Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa taraf signifikan 0,252 lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara promosi dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Sehingga hipotesis yang diajukan yakni, “diduga promosi berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar” ditolak.
Penyebab antara promosi dengan volume penjualan tidak signifikan karena kurangnya promosi yang dilakukan oleh Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu promosi yang dilakukan masih sangat kurang yaitu hanya menggunakan papan nama ditempat usahanya sehingga mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar.

B.    Pembahasan

 
1.    Pengaruh Strategi Produk terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
       Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa produk tidak berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Namun, memiliki korelasi yang kuat yaitu sebesar 40,0 persen., Penyebab yang menjadi tidak signifikan antara produk dengan volume penjualan karena produk yang dijual oleh warung Bakso Barokah kurang bervariasi, dimana tidak ada produk baru yang dijual. Jadi, walaupun harganya murah, tetapi produk yang ditawarkan kurang bervariasi akan mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Selain itu, produk yang dijual tidak diberikan merek pada setiap produknya. 


2.    Pengaruh Strategi Harga terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

       Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara harga dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar, namun memiliki korelasi yang sangat kuat sebesar 75,0 persen. Adapun penyebab tidak signifikan antara harga dengan volume penjualan yaitu tidak menerapkan potongan harga atau diskon dalam penjualan produknya.


3.    Pengaruh Strategi Tempat terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar

        Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tempat dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. Namun memiliki korelasi yang sangat kuat sebesar 75,0 persen. Adapun yang menjadi penyebab tidak signifikan antara tempat dengan volume penjualan yaitu Warung Bakso Barokah hanya memiliki satu cabang usaha saja, sehingga dapat mengurangi volume penjualannya. Selain itu, lokasi tempat yang kurang strategis karena berada di lorong dan fasilitas yang disediakan masih kurang memadai, dimana kurangnya kursi dan meja, serta tidak adanya lahan parkir yang disediakan, sehingga dapat mengurangi volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar. 


4.    Pengaruh Strategi Promosi terhadap Volume Penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar
      Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa promosi tidak signifikan dengan volume penjualan, namun memiliki korelasi yang kuat yaitu sebesar 40,0 persen. Adapun penyebab tidak signifikannya antara promosi dengan volume penjualan pada Warung Bakso Barokah di Kota Makassar yaitu promosi yang dilakukan masih sangat kurang, yaitu promosi yang dilakukan hanya memasang papan nama di tempat usahanya. Sehingga mengurangi volume penjualan. 


















Labels: